Rabu, 23 Maret 2016

MAKALAH STRUKTUR MODAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan globalisasi dimasa sekarang tentu memuat kemampuan bersaing dalam usaha yang sangat kompertif. Hal ini menyebabkan perusahan harus berupaya untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup perusahan. Perusahan dituntuk untuk tidak hanya menghasilkan produk dan memuaskan konsumen, tapi mampu untuk mengelolah keuangan dengan baik. Perusahan dalam melakukan operasional usahanya, membutuhkan dana untuk membiayai usahanya. Semakin besar dana yang dimiliki perusahan, maka semakin besar kegiatan operasional yang dilakukannya. Pendanaan untuk produktifitas perusahan dapt bersal dari pihak luar. Pendaan dari luar tersebut bisa bersal dari pemegang saham dan hutang. Menurut sifatnya ada dua macam tipe pendaan yaitu pendanaan dari luar berupa pinjaman dan dapat juga dengan menjual surat berharga melalui pasar modal dan pendanaan dari dalam yang berasal dari laba ditahan.
Riyanto (2001:209) menyatakan bahwa pemenuhan dana tersebut bersal dari sumber internal (intern source) maupun dari sumber eksternal ( ekstern sourc). Dana yang berasal dari sumber internal adalah dana yang terbentuk atau dihasilkan oleh perusahan sendiri yaitu laba ditahan ( retained earnings) an depresiasi( depreciation). Sedangakan dana yang diperoleh dari sumber eksternal adalah dana yang berasal dari kreditur, pemilik dan pengambil bagian dalam perusahan. Setiap manajer keuangan perlu menentukan keputusan struktur modal yaitu berkaitan dengan penetapan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri atau modal asing.
Masalah struktur modal merupakan masalah yang penting bagi setiap perusahan , karena tinggi rendahnya struktur modal suatu perusahan akan mencerminkn bagaiman posisi financial perusahaan tersebut. Manajer keuangan dituntut untuk ammpu menciptakan strutur modal yang optimal denagn cara menghimpin dana dari dalam maupun dari luar perusahan secara efisiien , yang berarti bahwa keputusan manajer mampu meminimalisir biaya modal yang ditanggung oleh perusahan atau dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Biaya modal yang timbul merupakan konsekuensi langsung dari keputusan yang diambil. Ketika manajer menggunakan hutang akan timbul biaya modal yang disyaratkan oleh kredit. Namun bila manajer memutuskan untuk menggunakan dana internal maka akan timbul opportunity cost dari dana yang dikeluarkan. Keputisan pendaan atau struktur modal yang tidak cermat akan berpengaruh langsung terhadap profitabilitas perusahaan tersebut.
Metode pemenuhan akan dana dengan cara ini disebut metode pemelanjaan dengan hutang ( debt financing). Sedangkan dana dari pemilik, peserta pengambil bagian dalam perusahan akan menjaqdi modal sendiri perusahan tersebut. Metode pemenuhan dana dengan cara ini disebut metode pembelanjaan modal sendiri ( equity financing).
Keputusan struktur modal secra langsung berpengaruh terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham serta besarnya tingkat pengembalian atau keuntungan yang bdiharapkan ( bringhsm dsn hoston 2001). Merupakan tugas dari manajer keuangan untuk menentukan komposisi struktur modal perusahan. Manajer keuangan harus mengesahkan agar perusahan memperoleh dana yang diperlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan.
Struktur modal menurut riyanto (2001:2013) adalah primbangan atau perbandingan antar jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Oleh karena itu, struktur modal diproksi dengan debt to equtyratio (DER), yang merupakan perbandingan antara total hutang terhadap modal sendiri. Pemakaian proksi dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran karena factor tersebut tidak dapat diukur secara langsung. Semakin besar DER maka semakin besar pula resiko yang harus dihaapi perusahan, karena pemakain hutang sebagai sumber pendanaan jauh lebih besar dari pada modal sendiri.
Dalam pembahasan ini penulis tidak akan membahas semua factor yang mempengaruhi modal perusahan, keputusan struktur modal perusahan, hanya beberapa factor yang akan penulis bahas pada pembahasan ini. Yaitu antara lain likuiitas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan perusahan, dan pice earning rasio.
Likuiditas adalah kemampuan perusahan dalam membayar hutang jangka pendek yang telah jatuh tempo. Perusahan yang dapat segera mengembalikan hutangnya akan mendapat kepercayaan dari debitur untuk menerbitkan hutang dalam jumlah yang besar. Semakin likuid suatu perusahan, maka semakin tinggi penggunaan hutangnya, ( Riyanto,2001:217). Struktur aktiva menggambarkan sebagaian jumlah aset yang dapat dijadikan jaminan ( collateral value of asset). Secara umum perusahan yang memiliki jaminan terhadap hutang akan lebih mudah mendapatkan hutang dari pada perusahan yang tidak memiliki jaminan. Pertumbuhan penjualan adalah kemampuan perusahan dengan penjualan yang relative stabil dapat lebih aman untuk memperoleh lebih banyak pinjaman, dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahan yang tingkat  penjualannya tidak stabil( Bringham & housto, 2006).
Pertumbuhan perusahan diukur dengan melihat pertumbuhan penjualan perusahan diukur dengan melihat pertumbuhan penjualan perusahan.pertumbuhan penjualan yang positif memperlihatkan adanya peningkatan penjualan dibandingkan dengan periode yang lalu, dengan pula sebaliknya, pertumbuhan penjualan yang negative memperlihatkan adanya penurunan penjualan dibandingkan dengan periode yang lalu, demikian pula sebaliknya, Price Earnins Ratio (PER) merupakan perbandingan harga suatu saham ( Market Price) dengan earnigs per share (EPS) dari saham yang bersangkutan. Kegunaan dari price earnings price (PER) adalahmelihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahan terhadap kinerja perusahan. Ang (1997) menyatakan bahwa peningkatan price earnings price(PER) yang dinilai dari investor menunjukan kinerja yang semakin baik, juga berdampak semakin menarik perhatian calon investor atau kreditur. Semakin menarik suatu perusahan dimata kreditur maka sangat dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat.
Pengembangan perusahaan dalam upaya untuk mengantisipasi persaingan yang semakin tajam seperti sekarang ini akan selalu dilakukan baik oleh perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Upaya tersebut merupakan permasalahan tersendiri bagi perusahaan, karena menyangkut pemenuhan dana yang diperlukan. Apabila suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan sumber dari dalam perusahaan, maka akan sangat mengurangi ketergantungannya kepada pihak luar. Apabila kebutuhan dana sudah sedemikian meningkatnya karena pertumbuhan perusahaan, dan dana dari sumber internal sudah digunakan semua, maka tidak ada pilihan lain, selain menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan baik dari utang (debt financing) maupun dengan mengeluarkan saham baru (external equity financing) dalam memenuhi kebutuhan dananya. Oleh karena itu, pada prinsipnya setiap perusahaan membutuhkan dana untuk pengembangan bisnisnya. Pemenuhan dana tersebut berasal dari sumber internal ataupun sumber eksternal. Karena itu, para manajer keuangan dengan tetap memperhatikan biaya modal (cost of capital) perlu menentukan struktur modal dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal asing.
Dalam melakukan keputusan pendanaan, perusahaan juga perlu mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber dana ekonomis guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya. Sebagaimana disebutkan dalam Weston dan Brigham (1990) kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan tingkat pengembalian, penambahan utang dapat memperbesar risiko perusahaan tetapi sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang lebih tinggi akibat membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham, tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga saham tersebut. Karena itu, struktur modal yang optimal harus mencapai suatu keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga dapat memaksimalkan harga saham perusahaan (Brigham dan Houston, 2006). Untuk itu, dalam3 penetapan struktur modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya.
Struktur modal merupakan perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan utang jangka panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan. Dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternatif-alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaanm mempunyai struktur modal yang optimal.
Masalah struktur modal merupakan masalah penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal perusahaan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi finansialnya. Bagi perusahaan yang mencari keuntungan biasanya mengutamakan keuntungan bagi pemiliknya atau pemegang saham. Pemegang saham dengan membeli saham berarti mengharapkan return tertentu dengan risiko minimal. Dengan tingginya tingkat return yang diperoleh pemegang saham maka para pemegang saham akan tertarik dan harga saham semakin tinggi, sehingga kesejahteraan pemegang saham akan meningkat. Disamping itu juga bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan melakukan pengembangan usahanya.
Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan menjadi hal yang penting sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan komposisi struktur modal perusahaan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komposisi struktur modal perusahaan diantaranya stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, ukuran perusahaan, dan fleksibilitas keuangan. Dalam penelitian ini, peneliti hanya membatasi beberapa faktor yang akan diteliti yang diduga berpengaruh terhadap struktur modal diantaranya profitabilitas, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan.
Besarnya rata-rata ketiga variabel independen (profitabilitas, pertumbuhan asset, ukuran perusahaan) dan variabel dependen (DER) pada perusahaan 4 Realestate and Property yang listed di BEI selama periode tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
Rata-rata DER, ROA, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran Perusahaan Pada
Perusahaan-perusahaan Realestate and Property yang Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) Periode Tahun 2005-2009

Sumber: ICMD 2005-2009, diolah
Dari tabel rata-rata variabel dapat dilihat bahwa rata-rata dari variable independen menunjukan hasil yang fluktuatif, hal ini kemudian menjadi fenomena gap. Fenomena empiris dalam penelitian ini didasarkan pada inkonsistensi data, dimana berdasarkan tabel rata-rata variabel menunjukan bahwa rata-rata variable ROA, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan meningkat pada periode tahun 2005-2006, sedangkan rata-rata variabel DER juga meningkat pada periode tahun yang sama, hal ini berarti pada tahun 2005-2006 antara variabel DER dengan ketiga variabel independen (ROA, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan) terjadi hubungan searah atau hubungan positif. Pada periode tahun 2007-2008 rata-rata DER meningkat, sedangkan untuk variabel ROA dan pertumbuhan asset menurun, hal ini berarti bahwa terjadi hubungan yang negatif. Berdasarkan fenomena dari rasio-rasio keuangan yang masih fluktuatif maka perlu diuji pengaruh dari ketiga variabel independen (profitabilitas, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan) dalam mempengaruhi DER pada perusahaan Realestate and Property yang terdaftar di BEI periode 2005-2009.
Jika ditelusuri dari sejarah dan asal katanya, real estate berasal dari bahasa Inggris, yang asal katanya berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya adalah sebagai suatu kawasan tanah yang dikuasai oleh raja, bangsawan dan landlord (tuan tanah pada jaman feodal diabad pertengahan), atau singkatnya properti milik 5 kerajaan. Sedangkan kata properti berasal dari kata aslinya dalam bahasa Inggris, yang arti sebenarnya adalah hak dan kepemilikan atas suatu tanah dan bangunan diatasnya. Sangat jelas disini baik kata real estate maupun property memiliki pengertian yang sama, yaitu hak kepemilikan atas tanah dan bangunan yang didirikan diatasnya (Joehartanto, 2009).
Industri property and realestate merupakan industri yang bergerak dibidang pembangunan gedung-gedung fasilitas umum. Menurut Michael C. Thomsett dan Jean Freestone Thomsett, pasar properti secara umum dibagi menjadi tiga yaitu, residental property, yang meliputi apartemen, perumahan, falt, dan bangunan multi unit; commercial property, yaitu property yang dirancang untuk keperluan bisnis, misalnya gedung penyimpanan barang dan areal parkir; dan industrial property, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan industri, misalnya bangunan-bangunan pabrik.
Adapun pasar properti di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi kedalam beberapa segmen pasar yaitu, gedung perkantoran (office building); retail market yang meliputi swalayan dan mall; apartemen dan kondominium; pasar kawasan industri (industrial estate market); dan pasar hotel (hotel market).
Dihampir semua negara termasuk Indonesia, sektor industri property and realestate merupakan sektor dengan karakteristik yang sulit untuk diprediksi dan berisiko tinggi. Sulit diprediksi disini artinya, pasang surut sektor ini memiliki amplitude yang besar yaitu, pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, industri property and realestate mengalami booming dan cenderung over supplied, namun sebaliknya pada saat pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, secara cepat sektor ini akan mengalami penurunan yang cukup drastic pula. Industri sektor properti dan realestate dikatakan juga mengandung risiko
tinggi, hal ini disebabkan pembiayaan atau sumber dana utama sektor ini pada umumnya diperoleh melalui kredit perbankan, sementara sektor ini beroperasi dengan menggunakan aktiva tetap berupa tanah dan bangunan. Meskipun tanah dan bangunan dapat digunakan untuk melunasi utang tetapi aktiva tersebut tidak dapat dikonversikan kedalam kas dalam waktu yang singkat, sehingga banyak pengembang (developer) tidak dapat melunasi utangnya pada waktu yang telah 6 ditentukan. Disamping aktiva tetap, ketidakmampuan pengembang di dalam melunasi utang biasanya disebabkan oleh adanya penurunan tingkat penjualan. Terjadinya penurunan ini merupakan akibat dari adanya spekulasi tanah (mark-up
tanah) yang membuat harga tanah menjadi mahal, sehingga menyebabkan tingginya harga jual rumah dan bangunan. Mahalnya harga jual rumah dan bangunan yang diikuti kecenderungan over supplied, menyebabkan tingkat penjualan jauh dibawah target yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, dalam kenyataannya sektor ini cukup diminati oleh banyak kalangan pengusaha dan mendapat dukungan penuh dari perbankan yang menyediakan portofolio kreditnya untuk properti.
Jika dilihat dari beberapa penelitian terdahulu, terdapat perbedaan hasil penelitian yang berkaitan dengan pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal. Dalam penelitian Sartono (1999) menunjukkan hasil bahwa profitabilitas mempunyai hubungan positif terhadap struktur modal. Sedangkan dalam penelitian Kartini & Tulus Arianto (2008) menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif dengan struktur modal. Selain itu, jika dilihat dari penelitian yang berkaitan dengan pengaruh pertumbuhan aktiva terhadap struktur modal, juga terdapat perbedaan hasil penelitian. Dalam penelitian Kartini dan Tulus Arianto (2008) menunjukkan hasil bahwa pertumbuhan aktiva mempunyai hubungan positif terhadap struktur modal. Sedangkan dalam penelitian Hendri
Berdasarkan masalah tersebut diatas yang berkaitan dengan pengaruh profitabilitas, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal, maka pembahasan ini mengambil judul ” Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi struktur Modal & Analisis Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran Perusahaan terhadap Struktur Modal”

1.2       Tujuan
            Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai berikut.
1.     Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur di bidang makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI)
2.     Mengetahui pengaruh likuiditas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, dan price earning rasio terhadap struktur modal perusahan.
3.     Mengetahui analisis pengaruh profitabilitas, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahan terhadap sturuktur modal pada perusahan Realestate and Property Yang Terdaftar Di (BEI)
4.     Mengetahui pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, Ukuran Perusahaan terhadap struktur modal perusahan





1.3       Lampiran jurnal
Kikiama orizah udin .022709047.faktor faktor yang mempengaruhi struktur modal (studi empiris pada perusahaan faktor –faktor yang n makanan dan minuman yang terdaftar di BEI ). Pembimbing 1 Asrudin hormati ,SE .,MSA.,Ak.Pembimbing II Dwi yana Amalia sari fala,SE .,M.Si,Ak
            Eka Amlia Kusumaningrum, C2A308003. Analisis pengaruh profitabilitas, Pertumbuhan asset, dan ukuran Perusahaan terhadap struktur Modal. Pembimbing: Drs. Wisnu Mawardi, MM

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai faktor-faktor yang meempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur bidang makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI) .Faktor -faktor yang di uji yaitu likuiditas ,profitabilitas, srtuktur aktiva,pertumbuhan penjuaalan ,dan price earning ratio.
Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria menyajikan laporan tahunan selama 2008 – 2012 .Diperoleh sampel sebanyak 17 perusahaan makanan dan minuman dalam penelitian ini .penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda untuk menguji faktor faktor yang berpengaruh terhadap struktur modal.selain ini juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas , uji multikolinieritas ,uji heteroskedastisitas dan uji autokorelas. Hasil penelitian menunjukan bahwa variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap struktur modal adalah likuiditas ,pertumbuhan perusahaan ,dan price earning ratio. Sedangkan variabel profitabilitas dan struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap struktur modal.
(studi kasus perusahan Realestate and Property,pertumbuhan penjualan ,dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal perusahaan realestate and property yang terdaftar pada BEI periode tahun 2005-2009). Disusun oleh: Eka Amelia kusumaningrum C2A308003. Dosen pembimbing :Drs.Wisnu mawardi ,MM.
 Struktur modal menunjukan seberapa besar utang maupun modal sendiri yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan .Apabila dikaitkan dengan masalah penentuan sumber –sumber dana yang akan digunakan serta berapa besarnya proporsi masing masing sumber dana tersebut, maka perusahaan akan menganalisis sejumlah faktor untuk kemudian menetapkan struktur modal yang ditargetkan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling untuk mendapatkan yang respsentatif sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Jumlah sampel yang didapat adalah sebanyak 16 perusahaan realestate and property dengan periode penelitian 2005-2009. Analisis data yang digunakan adalah analisis uji regresi berganda dengan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolineraritas, uji heterokedaksitas, dan uji autokorelasi. Sedangkan pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji T.
Hasil penelitian  menunjukan bahwa selama periode penelitian mulai tahun 2005 hingga tahun 2009 secara parsial variabel profitabilitas dan pertumbuhan asset terbukti berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, sedangkan variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Hasil dari koefisien regresi menunjukan bahwa variabel profitabilitas dan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap struktur modal, sedangkan variabel pertumbuhan asset mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal.
            Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilits, pertumbuhan penjualan, dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal perusahaan realestate and property yang terdaftar pada BEI periode tahun 2005-2009. Struktur modal menunjukkan seberapa besar utang maupun modal sendiri yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan. Apabila dikaitkan dengan masalah penentuan sumber-sumber dana yang akan digunakan, serta berapa besarnya proporsi masing-masing sumber dana tersebut, maka perusahaan akan menganalisis sejumlah faktor untuk kemudian menetapkan struktur modal yang ditargetkan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling untuk mendapatkan sampel yang reprensentatif sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Jumlah sampel yang didapat adalah sebanyak 16 perusahaan realestate and property dengan periode penelitian 2005-2009. Analisis data yang digunakan adalah analisis uji regresi berganda dengan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Sedangkan pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode penelitian mulai tahun 2005 hingga tahun 2009 secara parsial variabel profitabilitas dan pertumbuhan asset terbukti berpengaruh signifikan terhadap struktur modal, sedangkan variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Hasil dari koefisien regresi menunjukkan bahwa variable profitabilitas dan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap  struktur modal, Kata kunci: Struktur Modal, Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, Ukuran perusahan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Struktur modal menurut riyanto (2001:2013) adalah primbangan atau perbandingan antar jumlah hutang jangka panjang dengan modal sendiri. Oleh karena itu, struktur modal diproksi dengan debt to equtyratio (DER), yang merupakan perbandingan antara total hutang terhadap modal sendiri. Pemakaian proksi dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran karena factor tersebut tidak dapat diukur secara langsung. Semakin besar DER maka semakin besar pula resiko yang harus dihaapi perusahan, karena pemakain hutang sebagai sumber pendanaan jauh lebih besar dari pada modal sendiri.
Keputusan struktur modal secra langsung berpengaruh terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham serta besarnya tingkat pengembalian atau keuntungan yang bdiharapkan ( bringhsm dsn hoston 2001). Merupakan tugas dari manajer keuangan untuk menentukan komposisi struktur modal perusahan. Manajer keuangan harus mengesahkan agar perusahan memperoleh dana yang diperlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat yang paling menguntungkan.
Dalam penelitian Kartini & Tulus Arianto (2008) menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif dengan struktur modal.
Setyawan dan Sutapa (2006) menunjukkan hasil bahwa pertumbuhan aktiva mempunyai hubungan negatif terhadap strutur modal. Di luar permasalahan tersebut, berkaitan dengan pengaruh tangibility terhadap struktur modal juga terdapat perbedaan hasil penelitian.
kata properti berasal dari kata aslinya dalam bahasa Inggris, yang arti sebenarnya adalah hak dan kepemilikan atas suatu tanah dan bangunan diatasnya. Sangat jelas disini baik kata real estate maupun property memiliki pengertian yang sama, yaitu hak kepemilikan atas tanah dan bangunan yang didirikan diatasnya (Joehartanto, 2009).
Industri property and realestate merupakan industri yang bergerak dibidang pembangunan gedung-gedung fasilitas umum. Menurut Michael C. Thomsett dan Jean Freestone Thomsett, pasar properti secara umum dibagi menjadi tiga yaitu, residental property, yang meliputi apartemen, perumahan, falt, dan bangunan multi unit; commercial property, yaitu property yang dirancang untuk keperluan bisnis, misalnya gedung penyimpanan barang dan areal parkir; dan industrial property, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan industri, misalnya bangunan-bangunan pabrik.
Dalam penelitian Sartono (1999) menunjukkan hasil bahwa profitabilitas mempunyai hubungan positif terhadap struktur modal.
Sedangkan dalam penelitian Kartini & Tulus Arianto (2008) menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif dengan struktur modal. Selain itu, jika dilihat dari penelitian yang berkaitan dengan pengaruh pertumbuhan aktiva terhadap struktur modal, juga terdapat perbedaan hasil penelitian.
Keputusan pendanaan adalah keputusan keuangan tentang dari mana dana untuk membeli aktiva berasal (Lukas, 2003). Keputusan pendanaan merupakan keputusan yang berhubungan dengan masalah penentuan sumber-sumber dana yang akan digunakan, dan masalah perimbangan terbaik antara sumber-sumber dana tersebut.















BAB III
PEMBAHASAN
3.1  Struktur modal
Penentuan struktur modal banyak di pengaruhi oleh berbagai macam faktor. Dasar struktur modal berkaitan dengan sumber dana, baik itu sumber internal maupun sumber eksternal. Struktur modal berkaitan dengan sumber dana, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Sumber dana internal berasal dari dana yang terkumpul dari laba yang di tahan yang berasal dari kegiatan perusahaan. Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik yang merupakan komponen modal sendiri dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal pinjaman atau hutang. Modal dalam suatu bisnis merupakan salah satu sumber kekuatan untuk dapat melaksanakan aktifitasnya. Struktur modal perusahaan merupakn kompisisi hutang dengan ekuitas dana yang berasal dari hutang mempunyai biaya modal dalam bentuk biaya bunga. Dana yang berasal dari ekuitas mempunyai biaya modal berupa deviden. Perusahaan akan memilih sumber dana yang paling rendah biaya di atas berbagai alternatif sumber dana yang tersedia. Komposisi hutang dan ekuitas tidak optimal akan mengurangi profitabilitas perusahaan dan sebaliknya.

3.2  Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal
           Salah satu fungsi manajer keuangan adalah memenuhi kebutuhan dana. Didalam melakukan tugas tersebut manajemen keuangan di hadapkan adanya suatu variasi dalam pembelajaran dalam arti kadang-kadang perusahaan lebih baik menggunakan dana yang bersumber dari hutang (dbt), tetapi kadang perusahaan lebih baik jika menggunakan dana yang bersumber dari modal sendiri (equity). Oleh karena itu manajer keuangan di dalam operasinya perlu berusaha untuk memenuhi suatu sasaran tentu mengenai pertimbangan antara besarnya hutang dan jumlah modal sendiri yang tercermin dalam struktur modal perusahaan.
           Struktur modal dalam penelitian ini diukur dari debt to equity ratio (DER) di karenakan DER mencerminksn besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dan total shareholder’s equity (total modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities (baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang), sedangkan total shareholder’s merupakan total modal sendiri (total modal saham yang di setor dan laba yang di tahan) yang dimiliki perusahaan.  Rasio ini menunjukan kompisisi dari total hutang terhadap total ekuitas. Semakin tinggi DER menunjukkan kompisisi total hutang semakin besar di banding dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar  beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur) (Ang 1997). Dalam menentukan perimbangan antara besarnya hutang dan jumlah modal sendiri yang tercermin pada struktur modal perusahaan, maka perlu memperhitungkan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi debt to equity ratio (DER). Faktor-faktor yang mempengaruhi DER adalah sebagai berikut:
3.2.1    Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan di dalam membayar hutang jangka pendek yang telah jatuh tempo. Perusahaan yang dapat segera mengembalikan utang-utangnya akan mendapat kreditur untuk menerbitkan hutang dengan jumlah yang besar. RIYANTO 2001 menyatakan bahwa kebutuhan dana untuk aktiva lancar pada prinsipnya di biayai dengan kredit jangka pendek sehingga semakin likuit suatu perusahaan, maka semakin tinggi penggunaan hutangnya. Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perushaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan reltif terhadap hutang lancarnya (hutang dakam hal ini merupakan kewajiban perusahaan). Likuiditas menurut kamus akuntansi yang disusun oleh SAUJANA (2006:189) yaitu kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau hutang yang harus segera di bayar dengan harta lancarnya.
Menurut Packing Order Theory, perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan cenderung menggunakan pembiayaan dari hutang. Hal ini di sebabkan perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan internalnya terlebih dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui hutang.  Dalam penelitian prowse (1990) dalam kusumawati (2004), likuiditas, asset perusahaan dapat digunakan untuk menunjukan seberapa besar asset terse3but dapat di manipulasi oleh shareholdrs dengan biaya di tanggung boundholders. Selanjutnya menurut ozkan (2001) dalam kusumawati (2004), perusahaan dengan asset likuidi yang besar dapat digunakan asset ini untuk berinvestasi (pecking order theory).


3.2.2    Profitabilitas
Brinham and houstond (2001) dalam nugroho (2004) mengatakan bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi akan menggunakan utang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang di hasilkan secara internal. Perusahaan yang mempunyai profit tinggi, akan menggunakan hutang dalam jumlah rendah, dan sebaliknya. Fenomena ini di dukung oleh hasil penelitian titman dan wessels (1988) dalam abadi (2004) yang menggunakan debt ratio untuk menggambaran struktur modal, bahwa ada hubungan negatif antara profitabilitity dengan debt ratio.
Menurut Weston dan Brigham (1990)Profitabilitas merupakan faktor yang dipertimbangkan dalam menetukan struktur modal perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menggunakan utang yang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi sudah memadai untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan.
            Ratio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aktiva, dan modal. Ada tiga rasio yang dapat digunakan dalam rasio profitabilitas, yaitu rasio profit margin return on asset (ROA) dan return on Equity  (ROE) profit margin mengukur sejauh mana perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tetentu. Rasio profit margin yang rendah dapat menunjukan ketidakefesien manajemen. ROA menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Sedangkan ROE menggambarkan tingkat return yang dihasilkan perusahaan bagi pemegang sahamnya.
Chen dan hammes (2003) dalam indrawati dan suhendro (2006) mengemukakan bahwa perusahaan mengalami kesulitan keuangan akan meminjam uang atau mengeluarkan saham dengan kondisi tertentu agar mendapatkan sumber dana untuk kegiatan operasionalnya. Perusahaan dengan kondisi keuangan yang baik meminjam uang lebih sedikit walaupun mempunyai kesempatan untuk meminjam lebih banyak.
Profitabilitas merupakan faktor yang dipertimbangkan dalam menetukan struktur modal perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menggunakan utang yang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi sudah memadai untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan. Menurut Weston dan Brigham (1990),
3.2.3    Struktur aktiva
Aktiva menggambarkan sebagian jumlah asset yang dapat dijadikan jaminan (collateral value of asset). Brigham and gapenski (1996) dalam nugroho (2004) menyatakan bahwa secara umum perusahaan yang memiliki jaminan terhadap hutang akan lebih mudah mendapatkan hutang daripada perusahaan yang tidak memiliki jaminan.  Teori tersebut juga kondisi dengan atmaja (1999) yang menyatakan bahw perusahaan yang memiliki aktiva yang dapat di gunakan sebagai angunan hutang cenderung menggunakan hutang yang relatif besar.
            Menurut Riyanto (2001)kebanyakan perusahaan industri di mana sebagian besar dari pada modalnya tertanam dalam aktiva tetap, akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanen, yaitu modal sendiri, sedangkan hutang sifatnya sebagai pelengkap. Hidayat (2001) dalam stefannie handayani (2011) mengemukakan bahwa struktur aktiva berpengaruh positif terhadap struktur modal. Penelitian dari mayangsari (2001) mendukung penelitian hidayat (2001) tersebut, di mana struktur aktiva berpengaruh positif terhadap struktur modal.
      Struktur aktiva mencerminkan dua komponen aktiva secara garis besar dalam komposisinya yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva yang dapat di realisasikan menjadi uang kas atau dijual atau lagi dikonsumsi dalam suatu periode akuntansi yang normal sedangkan aktiva tetap adalah aktiva yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau di bangun lebih dahulu yang digunakan dalam operasi perusahaan.
            Penelitian yang di lakukan oleh wijaya dan hadiyanto (2008) menunjukkan bahwa struktur aktiva berpengaruh positif terhadap struktur modal. Hasil yang berbeda di temukan dalam penelitian suarto dan edingsing (2002) menunjukkan adannya tidak signifikan terhadap struktur modal. Hasil yang berbeda di temukan dalam penelitian yang di lakukan oleh harjanti dan tadelilin (2007),  kusumawati (2004) serta darmawan (2008) yang memberikan hasil bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh struktur modal.
3.2.4    Pertumbuhan perusahaan
Perusahaan yang stabil dapat lebih aman, dapat lebih banyak pinjaman dan menanggung beban yang lebih tinggi di bandingkan dengan perusahaan yang penjualan yang tidak stabil. Perusahaan umum, karena permintan produk atau jasanya stabil secara historis maupun menggunakan lebih leverage keuangan dari pada perusahaan industri.  Perusahaan yang tumbuh dengan pesat harus lebih banyak mengandalkan modal eksternal lebih jauh lagi, biaya pengembangan untuk penjualan saham bisa lebih besar dari pada biaya untuk penerbitan surat hutang obligasi yang lebih banyak mengandalkan hutang tetapi pada saat yang sama, yang cenderung mengurangi keinginannya untuk menggunakan hutang (brigham dan houston, 2011).
            Bagi perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan dan laba yang tinggi  kecenderungan penggunaan hutang sebagai sumber dana eksternal yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang tingkat pertumbuhan penjualan rendah (mayangsari, 2001). Berdasarkan hasil penelitian yang di kemukakan oleh (Thies dan klock, 1992 dan baskin 1989 dalam mayangsari, 2001) menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan dengan hutang.
            Pertumbuhan penjualan yang tinggi selalu di ikuti dengan peningkatan dana yang di gunakan untuk pembiayaan ekspansi. Hal ini perusahaan cenderung mengurangi keinginan perusahaan untuk membagi laba pada para pemegang saham berdasarkan uraian di atas pertumbuhan penjualan di prediksikan mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal perusahaan.
3.2.5    Price earning Ratio
Price earning ratio (PER) merupakan perbandingan harga suatu saham (market price) dengan earning pe share (EPS) dari saham yang bersangkutan. Kegunaan dari PER adalah melihat bagaimana  pasar menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang tercemin oleh EPS nya .semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham tersebutsemakin mahal terhadap pendapatan bersih per sahamnya.
3.2.6    Ukuran Perusahaan (Firm Size)

Ukuran perusahaan dapat diartikan sebagai besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity, nilai perusahaan, ataupun hasil nilai total aktiva dari suatu perusahaan (Bambang Riyanto, 1995). Menurut Sujianto (2001), ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva jumlah penjualan, rata-rata total penjualan asset, dan rata-rata total aktiva. Dalam penelitian ini, dengan mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Saidi (2004) maka ukuran perusahaan diukur melalui total asset yang yang diproksikan dengan nilai logaritma natural dari total asset perusahaan (Ln Total Asset).
3.2.7    Pertumbuhan Asset (Assets Growth)

Menurut Brimigham dan Erhart (2005), perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan bergantung pada dana dari luar perusahaan dikarenakan dana dari dalam perusahaan tidak mencukupi untuk mendukung tingkat pertumbuhan yang tinggi. Dengan demikian perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan lebih banyak menggunakan utang sebagai sumber pendanaannya daripada perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah.
3.2.8    Kerangka pikir.
            Faktor- factor yang mempengaruhi struktur modal suatu perusahan bermacam-macam. Dalam pembahasan ini factor yang digunakan adalah likuiditas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan perusahan, dan price earning ratio. Kerangka pemikiran adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1
Model Penelitian study kasus I
Likuiditas

Profitabilitas

Sturuktur Aktiva

Pertumbuhan Perusahan

Price earning

Struktur Modal

 












Gambar Model Kerangka Pemikiran
Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran Perusahaan
terhadap Struktur Modal

Profitabilitas
(profitability)
Pertumbuhan Asset
(assets growth)
Ukuran Perusahaan
(firm size)
Struktur Modal
 










Gambar 3.2 Model Penelitian studi kasus II




3.3       Pembahasan hasil penelitian
3.3.1    Pengaruh likuiditas terhadap struktur modal
            Hasil analisis statistic ditemukan bahwa likuiditas berengaruh terhdap sturuktur modal namun ada hubungan yang ditunjukan oleh koefisien regresi adalah negative, hal ini berarti semakin besar likuiditas suatu perusahan, maka berdampak pada berkurangnya penggunaan hutang jangka panjang dan struktur modal. Secara teori bahwa dengan kemampuan likuiditas yang besar perusahan dapat mengurangi tingkat resiko perusahan oleh hutang dengan mengurangi tingkat hutang atas kemampuannya.
3.3.2    Pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal.
            Hasil pengujian menunjukan bahwa profitsbilitas tidak berpengaruh terhadap struktur modal, artinya variasi naik turuunya profitabilitas perusahan tidak diikuti oleh variasi naik turunya struktur modalnya, atau ketika profitabilitas perusahan mengalami perubahan ( naik/turun) maka tidak diikuti oleh perusahan struktur modalnya.hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa wirausahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas  investasi akan menggunakan utagng relative kecil. Ini dimungkinkan karena perusahan lebih memilih utang dal pemenuhan pendanaan perusahan.
3.3.3    Pengaruh struktur aktiva terhadap struktur modal.
            Hasil analisis statisiskik menemukan bahwa stuktur aktiva tidak berpengaruh terhadap struktur modal, karena variasi naik turunnya struktur aktiva perusahan tidak diikuti oleh variasi naik turunnya struktur modal, atau ketika struktur aktiva perusahan mengalami perubahan (naik/turun) maka tidak diikuti oleh perusahan struktur modalnya. Hal ini karena adanya produk derivatif pembiayaan dan munculnya inovasi-inovasi baru dalam instrument keuangan yang menyebabkan perang jaminan yang berbentuk aktiva tetap menjadi semakin berkurang untuk dijadikan agunan.
3.3.4    Pengaruh pertumbuhan perusahan terhadap struktur modal.
            Hasil pengujian statistic menemukan bahwa pertu
mbuhan perusahan mempengaruhi struktur modal dan memiliki arah hubungan yang positif. Suatu perusahan yang berbedah dalam industry yang mempunyai laju pertumbuhan yang tinggi harus menyediakan modal yang cukup untuk membelanjai perusahan. Perusahan yang bertumbuh pesat cenderung lebih banyak menggunakn utang dari pada perusahan yang bertumbuh secara lambat ( Weston & brigham, 1994). Penambahan utang ini dapat dipandang sebagai meningkatnya kepercayaan masyarakat, khusunya investor terhadap perusahan.
3.3.5    Pengaruh PER terhadap struktur modal.
            Hasil pengujian statistic menunjukan bahwa PER memiliki hubungan yang negative dan berpengaruh terhadap struktur modal. Ang (1997) menyatakan bahwa peningkatan PER yang dinilai oleh investor menunjukan kinerja yang semakin baik, juga berdampak semakin menarik perhatian calon kreditur. Semakin meningkat perhatian kreditor terhadap perusahaan, maka sangat dimungkinkan jumlah utang akan semakin meningkat.
3.3.6    Hubungan Antara Ukuran Perusahaan dengan Struktur Modal

Perusahaan kecil akan cenderung memiliki biaya modal sendiri dan biaya utang jangka pendek yang lebih tinggi daripada perusahaan besar. Maka perusahaan kecil akan cenderung menyukai utang jangka pendek dari pada utang jangka panjang karena biayanya lebih rendah. Demikian juga dengan perusahaan besar akan cenderung memiliki sumber pendanaan yang kuat, sehingga lebih cenderung untuk memilih utang jangka panjang. Semakin besar ukuran suatu perusahaan, maka kecenderungan menggunakan modal asing juga semakin besar. Hal ini disebabkan karena perusahaan besar membutuhkan dana yang besar pula untuk menunjang operasionalnya (Abdul Halim, 2007).
BAB IV
PENUTUP
4.1       Kesimpulan
1.      Hasil analisis ditemukan bahwa likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal, hal ini berarti semakin besar kemampuan likuiditasnya belum tentu perusahaan tersebut mampu membayar hutang atau pendanaan ekstern perusahaan. Secara teori bahwa dengan kemampuan likuiditas yang besar perusahaan dapat mengurangi tingkat resiko perusahaan oleh hutang dengan mengurangi tingkat hutang atas  kemampuannya.
2.      Hasil pengujian menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh dengan struktur modal. Hal ini disebabkan karena profitabilitas merupakan indicator bahwa perusahaan memiliki dana internal untuk pendanaan. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar keebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Dalam hal ini manajer akan lebih senang menggunakan pembiayaan dari pertama, laba ditahan, kemudian hutang, dan terakhir penjualan saham baru.
3.      Hasil analisis statistic menemukan bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap struktur modal, karena variasi naik turunnya struktur aktiva suatu perusahaan tidak diikuit oleh variasi naik turunya struktur modalnya, atau ketika struktur aktiva perusahan menalami perubahan (naik/turun) maka tidak diikuti oleh perusahan struktur modalnya.
4.      Hasil pengujian statistic menemukan bahwa pertumbuhan perusahaan mempengaruhi struktur modal. Hal ini disebabkan karena perusahan yang tumbuh, maka menunjukan kekuatan diri yang semakin besar pada perusahan, sehingga perusahan akan memerlukan lebih banyak pendanaan, sehinnga sering kali perusahan tidak memiliki kecukupan modal, sehingga tercipta hutang baru. Semakin besar aset suatu perusahan diharapkan semakin besar hasil operasional yang dihasilkan oleh perusahan tersebut.
5.      Hasil pengujian statistic menunjukan bahwa PER memiliki hubungan yang yang negative dan berpengaruh terhadap struktur modal. Peningkatan PER yang dinilai oleh investor menunjukan kinerja yang semakin baik, juga berdampak semakin menarik perhatian calon kreditur. Semakin meningkat perhatian kreditur terhadap perusahan, maka sangat dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat.
6.      Dari hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa variable profitabilitas (ROA) berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,039 yang berarti bahwa lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Profitabilitas (ROA) mempunyai koefisien regresi dengan arah negatif sebesar -8,443. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas mempunyai hubungan negative dengan struktur modal, yang berarti jika profitabilitas meningkat maka DER akan semakin kecil. Dari hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan profitabilitas (ROA) berpengaruh terhadap struktur modal (DER) terbukti.
7.      Dari hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa variable profitabilitas (ROA) berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,039 yang berarti bahwa lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Profitabilitas (ROA) mempunyai koefisien regresi dengan arah negatif sebesar -8,443. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel profitabilitas mempunyai hubungan negative dengan struktur modal, yang berarti jika profitabilitas meningkat maka DER akan semakin kecil. Dari hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan profitabilitas (ROA) berpengaruh terhadap struktur modal (DER) terbukti.
8.      Dari hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa variable pertumbuhan asset (assets growth) berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,032 yang berarti bahwa lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Pertumbuhan asset mempunyai koefisien regresi dengan arah positif sebesar 1,820. Hasil ini menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan asset mempunyai hubungan positif dengan struktur modal, yang berarti jika pertumbuhan asset meningkat maka akan diikuti pula dengan meningkatnya DER. Dari hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan pertumbuhan asset berpengaruhterhadap struktur modal ( DER) terbukti.

4.2       Keterbatasan Penelitian.
            Keterbatasan yang ditemukan oleh penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman belum memperhatikan terlebih dahulu variable terdahulu likuiditas, pertumbuhan perusahaan, dan price earning ratio sebelum sebulum menetapkan kebijakan struktur modalnya sehingga kebijakan struktur modal dihasilkan masih kurang optimal bagi perusahan.
2.      Belum ada perhatian yang jelas dari pihak-pihak eksternal perusahaan mengenai dampak positif dan negative dari struktur hutang yang dimiliki perusahaan.
3.      Jumlah sampel dalam penelitian ini masih sedikit karena hanya terfokus pada perusahaan manufaktur bidang makanan dan minuman saja. Priode penilitian yang pendek sehingga belum menggambarkan konsistensi dari variable-variabel yang diteliti.
4.      Penelitian ini hanya terbatas untuk sampel perusahaan realestate and property sehingga sampel yang dapat diambil dan memenuhi syarat penelitian selamaperiode tahun 2005-2009 hanya berjumlah 16 perusahaan.
5.      Rasio keuangan perusahaan yang digunakan sebagai dasar untuk memprediksi DER hanya terbatas pada tiga rasio, yaitu : asset growth, firm size, dan ROA.
6.      Penilaian kinerja berdasarkan laporan keuangan (2005-2009) mempunyai kelemahan yaitu bersifat sesaat. Laporan itu hanya memotret kondisi perusahaan pada saat laporan keuangan tersebut dibuat, padahal kinerja sebuah perusahaan bisa saja berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, kalau pada tahun 2005 kinerja suatu perusahaan bagus, pada tahun 2006 belum tentu, begitu juga sebaliknya. Hal ini juga yang mempengaruhi proses pengolahan data saat melakukan uji koefisien determinasi, karena fluktuatif kenaikan maupun turunnya data yang ada akan mempengaruhi hasil dari uji koefisien determinasi (besarnya nilai adjusted R square).


4.3       Saran
            Saran-saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi pihak manajemen perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebaiknya sebelum menetapkan kebijakan struktur modalnya agar terlebih dahulu memperhatikan variable likuiditas, pertmbuhan perusahaan, dan price earning ratio. Dengan memperhatiakan variable-variabel tersebut, perusahaan dapat memutuskan besarnya struktur modal yang sesuai sehingga dihasilkan kebijakan  struktur modal yang optimal bagi perusahaan.
2.      Investor nampaknya perlu memperhatikan nilai struktur hutang perusahaan dengan tetap mempertimbangkan dampak positif maupun negatifnya. Dalam hal ini investor.
3.      Bagi pihak manajemen perusahaan realestate and property sebaiknya sebelum menetapkan kebijakan struktur modalnya agar terlebih dahulu memperhatikan variabel ukuran perusahaan (firm size) dan profitabilitas yang di-proxy dengan return on total asset (ROA). Dengan memperhatikan variabel-variabel tersebut, perusahaan dapat memutuskan besarnya struktur modal yang sesuai sehingga dihasilkan kebijakan struktur modal yang optimal bagi perusahaan.  
4.      Untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk meneliti variabel-variabel lain selain variabel yang digunakan dalam penelitian ini yang mungkin berpengaruh terhadap struktur modal.

























DAFTAR PUSTAKA

Abadi, R. Moch (2004). Analisis factor-faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahan Pada Industry Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia ( Study Pada Tahun 1999-2001). Tesis tidak dipublikasikan. Universitas diponegoro semarang
Atmaja, Lukas Setia. 1999. Manajemen Keuangan, Edisi 2, Andi Offset, Jakarta
Ang, Robbert. (1997). Buku Pintar:  Pasar Modal Indonesia ( The intelligentGuide to Indonesian Capital Market). Medisoft Indonesia
Bringham, Eugene F dan Joel F Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi delapan. Salemba Empat. Jakarta
Harjanti, Theresia T., & Eduardus  Tandelilin. 2007. Pengaruh Firm size,Tangible Asset, Growth, Profitability, and Business Risk pada Struktur odal Perusahan Manufaktur di Indonesia: studi kasus BEI. Jurnal Ekonomi & Bisnis, Vol.1 No. 1, hlm. 1-10
Hardianto, Bram danM. Sienly Veronica Wijaya. 2008. Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran, Likuiditas, dan Profibilitas Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Ritel di Bursa Efek Indonesia: Sebuah Pengujian hipotesis Pecking order. Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol.7 No. 1
Joni & Lina. 2010. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 12 No.2, Agustus 2010
Kusumawati, Dini. 2004. Pengaruh Karateristik Perusahan terhadap Struktur modal pada perusahan publik yang tercatat di bursa efek Jakarta. Jurnal Ekonomi STEI, No. 4/Thn. XIII, hlm. 22-48.
Suwarto, FX dan S I Ediningsih. 2002. Pengaruh Stabilitas Penjualan, Struktur Aktiva. Tingkat Pertumbuhan, dan Profitabilitas terhadap Sturuktur Modal pada perusahan pedagang eceran di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi, Thn VI/No. 1, hlm. 20-32.
Seftianne & Ratih Handayani 2011. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahan publikSektor Manufaktur. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 13No. 1, April 2011
Laili Hidayat (2001), “ Analisa Faktor yang mempengaruhi struktur keuangan Perusahan Manufaktur,” Jurnal Bisnis Strategi, VOl 7/Th. V/2001
Brigham & Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi sepuluh. Jakarta: Salemba Empat.
Crhistianti, Ari. 2006. Penentuan Perilaku Kebijakan Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di BEJ: Hipotesis Static Trade Off atau Pecking Order Theory. Jurnal.
Ghozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Halim, Abdul. 2007. Manajemen Keuangan Bisnis. Bogor: Ghalia Indonesia.
Husnan, Suad. 1996. Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan. Yogyakarta: BPFE, Edisi Keempat.
Joehartanto, 2009. “Property vs Real Estate”, h..n.p, http://www.joehartanto.com. Diakses tanggal 1 April 2009.
Kartini, dan Tulus Arianto, 2008. Struktur Kepemilikan, Profitabilitas, Pertumbuhan Aktiva dan Ukuran Perusahaan Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur. Jurnal Keuangan dan Perbankan Vol 12 No.1.
Lukas Setia Atmaja. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi 3. Yogyakarta: ANDI.
Margaretha, Farah. 2003. Tinjauan Persepsi Manajemen Terhadap Struktur Modal Perusahaan Go Publik. Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen. Vol.3 No.1, April.
Michael C. Thomsett, Jean Freestone Thomsett, Getting Started in Real Estate Investing, John Wiley & Sons Inc.
Munawir, S. 2002. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Edisi Keempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar