BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan globalisasi dimasa sekarang
tentu memuat kemampuan bersaing dalam usaha yang sangat kompertif. Hal ini
menyebabkan perusahan harus berupaya untuk tetap mempertahankan kelangsungan
hidup perusahan. Perusahan dituntuk untuk tidak hanya menghasilkan produk dan
memuaskan konsumen, tapi mampu untuk mengelolah keuangan dengan baik. Perusahan
dalam melakukan operasional usahanya, membutuhkan dana untuk membiayai
usahanya. Semakin besar dana yang dimiliki perusahan, maka semakin besar
kegiatan operasional yang dilakukannya. Pendanaan untuk produktifitas perusahan
dapt bersal dari pihak luar. Pendaan dari luar tersebut bisa bersal dari
pemegang saham dan hutang. Menurut sifatnya ada dua macam tipe pendaan yaitu
pendanaan dari luar berupa pinjaman dan dapat juga dengan menjual surat
berharga melalui pasar modal dan pendanaan dari dalam yang berasal dari laba
ditahan.
Riyanto (2001:209) menyatakan bahwa pemenuhan dana
tersebut bersal dari sumber internal (intern source) maupun dari sumber
eksternal ( ekstern sourc). Dana yang berasal dari sumber internal adalah dana
yang terbentuk atau dihasilkan oleh perusahan sendiri yaitu laba ditahan (
retained earnings) an depresiasi( depreciation). Sedangakan dana yang diperoleh
dari sumber eksternal adalah dana yang berasal dari kreditur, pemilik dan
pengambil bagian dalam perusahan. Setiap manajer keuangan perlu menentukan
keputusan struktur modal yaitu berkaitan dengan penetapan apakah kebutuhan dana
perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri atau modal asing.
Masalah struktur modal merupakan masalah yang penting
bagi setiap perusahan , karena tinggi rendahnya struktur modal suatu perusahan
akan mencerminkn bagaiman posisi financial perusahaan tersebut. Manajer
keuangan dituntut untuk ammpu menciptakan strutur modal yang optimal denagn
cara menghimpin dana dari dalam maupun dari luar perusahan secara efisiien ,
yang berarti bahwa keputusan manajer mampu meminimalisir biaya modal yang
ditanggung oleh perusahan atau dapat memaksimalkan nilai perusahaan. Biaya
modal yang timbul merupakan konsekuensi langsung dari keputusan yang diambil.
Ketika manajer menggunakan hutang akan timbul biaya modal yang disyaratkan oleh
kredit. Namun bila manajer memutuskan untuk menggunakan dana internal maka akan
timbul opportunity cost dari dana yang dikeluarkan. Keputisan pendaan atau
struktur modal yang tidak cermat akan berpengaruh langsung terhadap
profitabilitas perusahaan tersebut.
Metode pemenuhan akan dana dengan cara ini disebut
metode pemelanjaan dengan hutang ( debt financing). Sedangkan dana dari
pemilik, peserta pengambil bagian dalam perusahan akan menjaqdi modal sendiri
perusahan tersebut. Metode pemenuhan dana dengan cara ini disebut metode
pembelanjaan modal sendiri ( equity financing).
Keputusan struktur modal secra langsung berpengaruh
terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham serta besarnya tingkat
pengembalian atau keuntungan yang bdiharapkan ( bringhsm dsn hoston 2001).
Merupakan tugas dari manajer keuangan untuk menentukan komposisi struktur modal
perusahan. Manajer keuangan harus mengesahkan agar perusahan memperoleh dana
yang diperlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat yang paling
menguntungkan.
Struktur modal menurut riyanto (2001:2013) adalah
primbangan atau perbandingan antar jumlah hutang jangka panjang dengan modal
sendiri. Oleh karena itu, struktur modal diproksi dengan debt to equtyratio
(DER), yang merupakan perbandingan antara total hutang terhadap modal sendiri.
Pemakaian proksi dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran karena factor tersebut
tidak dapat diukur secara langsung. Semakin besar DER maka semakin besar pula
resiko yang harus dihaapi perusahan, karena pemakain hutang sebagai sumber
pendanaan jauh lebih besar dari pada modal sendiri.
Dalam pembahasan ini penulis tidak akan membahas semua
factor yang mempengaruhi modal perusahan, keputusan struktur modal perusahan,
hanya beberapa factor yang akan penulis bahas pada pembahasan ini. Yaitu antara
lain likuiitas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan perusahan, dan
pice earning rasio.
Likuiditas adalah kemampuan perusahan dalam membayar
hutang jangka pendek yang telah jatuh tempo. Perusahan yang dapat segera
mengembalikan hutangnya akan mendapat kepercayaan dari debitur untuk
menerbitkan hutang dalam jumlah yang besar. Semakin likuid suatu perusahan,
maka semakin tinggi penggunaan hutangnya, ( Riyanto,2001:217). Struktur aktiva
menggambarkan sebagaian jumlah aset yang dapat dijadikan jaminan ( collateral
value of asset). Secara umum perusahan yang memiliki jaminan terhadap hutang
akan lebih mudah mendapatkan hutang dari pada perusahan yang tidak memiliki
jaminan. Pertumbuhan penjualan adalah kemampuan perusahan dengan penjualan yang
relative stabil dapat lebih aman untuk memperoleh lebih banyak pinjaman, dan
menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahan yang
tingkat penjualannya tidak stabil(
Bringham & housto, 2006).
Pertumbuhan perusahan diukur dengan melihat
pertumbuhan penjualan perusahan diukur dengan melihat pertumbuhan penjualan
perusahan.pertumbuhan penjualan yang positif memperlihatkan adanya peningkatan
penjualan dibandingkan dengan periode yang lalu, dengan pula sebaliknya,
pertumbuhan penjualan yang negative memperlihatkan adanya penurunan penjualan
dibandingkan dengan periode yang lalu, demikian pula sebaliknya, Price Earnins Ratio (PER) merupakan
perbandingan harga suatu saham ( Market
Price) dengan earnigs per share (EPS)
dari saham yang bersangkutan. Kegunaan dari price earnings price (PER)
adalahmelihat bagaimana pasar menghargai kinerja saham suatu perusahan terhadap
kinerja perusahan. Ang (1997) menyatakan bahwa peningkatan price earnings price(PER) yang dinilai dari investor menunjukan
kinerja yang semakin baik, juga berdampak semakin menarik perhatian calon investor
atau kreditur. Semakin menarik suatu perusahan dimata kreditur maka sangat
dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat.
Pengembangan perusahaan
dalam upaya untuk mengantisipasi persaingan yang semakin tajam seperti sekarang
ini akan selalu dilakukan baik oleh perusahaan besar maupun perusahaan kecil.
Upaya tersebut merupakan permasalahan tersendiri bagi perusahaan, karena
menyangkut pemenuhan dana yang diperlukan. Apabila suatu perusahaan dalam
memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan sumber dari dalam perusahaan, maka akan
sangat mengurangi ketergantungannya kepada pihak luar. Apabila kebutuhan dana
sudah sedemikian meningkatnya karena pertumbuhan perusahaan, dan dana dari
sumber internal sudah digunakan semua, maka tidak ada pilihan lain, selain
menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan baik dari utang (debt
financing) maupun dengan mengeluarkan saham baru (external equity
financing) dalam memenuhi kebutuhan dananya. Oleh karena itu, pada
prinsipnya setiap perusahaan membutuhkan dana untuk pengembangan bisnisnya.
Pemenuhan dana tersebut berasal dari sumber internal ataupun sumber eksternal.
Karena itu, para manajer keuangan dengan tetap memperhatikan biaya modal (cost
of capital) perlu menentukan struktur modal dalam upaya menetapkan apakah
kebutuhan dana perusahaan dipenuhi dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan
modal asing.
Dalam melakukan keputusan
pendanaan, perusahaan juga perlu mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi
sumber-sumber dana ekonomis guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi
serta kegiatan usahanya. Sebagaimana disebutkan dalam Weston dan Brigham (1990)
kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan
tingkat pengembalian, penambahan utang dapat memperbesar risiko perusahaan
tetapi sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko
yang lebih tinggi akibat membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham,
tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga
saham tersebut. Karena itu, struktur modal yang optimal harus mencapai suatu
keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga dapat memaksimalkan harga
saham perusahaan (Brigham dan Houston, 2006). Untuk itu, dalam3 penetapan
struktur modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang
mempengaruhinya.
Struktur modal merupakan
perbandingan atau imbangan pendanaan jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan
oleh perbandingan utang jangka panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan
kebutuhan dana perusahaan dari sumber modal sendiri berasal dari modal saham,
laba ditahan, dan cadangan. Dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus
mencari alternatif-alternatif pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien
akan terjadi bila perusahaanm mempunyai struktur modal yang optimal.
Masalah struktur modal
merupakan masalah penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur
modal perusahaan akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi
finansialnya. Bagi perusahaan yang mencari keuntungan biasanya mengutamakan
keuntungan bagi pemiliknya atau pemegang saham. Pemegang saham dengan membeli
saham berarti mengharapkan return tertentu dengan risiko minimal. Dengan
tingginya tingkat return yang diperoleh pemegang saham maka para
pemegang saham akan tertarik dan harga saham semakin tinggi, sehingga
kesejahteraan pemegang saham akan meningkat. Disamping itu juga bertujuan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan melakukan pengembangan
usahanya.
Adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi struktur modal perusahaan menjadi hal yang penting sebagai dasar
pertimbangan dalam menentukan komposisi struktur modal perusahaan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komposisi struktur modal perusahaan
diantaranya stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi,
tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen,
ukuran perusahaan, dan fleksibilitas keuangan. Dalam penelitian ini, peneliti
hanya membatasi beberapa faktor yang akan diteliti yang diduga berpengaruh
terhadap struktur modal diantaranya profitabilitas, pertumbuhan asset, dan
ukuran perusahaan.
Besarnya rata-rata ketiga
variabel independen (profitabilitas, pertumbuhan asset, ukuran perusahaan) dan
variabel dependen (DER) pada perusahaan 4 Realestate and Property yang
listed di BEI selama periode tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel
Rata-rata DER, ROA, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran
Perusahaan Pada
Perusahaan-perusahaan Realestate and Property yang
Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia
(BEI) Periode Tahun 2005-2009
Sumber: ICMD 2005-2009, diolah
Dari tabel rata-rata
variabel dapat dilihat bahwa rata-rata dari variable independen menunjukan
hasil yang fluktuatif, hal ini kemudian menjadi fenomena gap. Fenomena empiris
dalam penelitian ini didasarkan pada inkonsistensi data, dimana berdasarkan
tabel rata-rata variabel menunjukan bahwa rata-rata variable ROA, pertumbuhan
asset, dan ukuran perusahaan meningkat pada periode tahun 2005-2006, sedangkan
rata-rata variabel DER juga meningkat pada periode tahun yang sama, hal ini
berarti pada tahun 2005-2006 antara variabel DER dengan ketiga variabel
independen (ROA, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan) terjadi hubungan
searah atau hubungan positif. Pada periode tahun 2007-2008 rata-rata DER
meningkat, sedangkan untuk variabel ROA dan pertumbuhan asset menurun, hal ini
berarti bahwa terjadi hubungan yang negatif. Berdasarkan fenomena dari
rasio-rasio keuangan yang masih fluktuatif maka perlu diuji pengaruh dari
ketiga variabel independen (profitabilitas, pertumbuhan asset, dan ukuran perusahaan)
dalam mempengaruhi DER pada perusahaan Realestate and Property yang
terdaftar di BEI periode 2005-2009.
Jika ditelusuri dari sejarah
dan asal katanya, real estate berasal dari bahasa Inggris, yang asal
katanya berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya adalah sebagai suatu kawasan
tanah yang dikuasai oleh raja, bangsawan dan landlord (tuan tanah pada
jaman feodal diabad pertengahan), atau singkatnya properti milik 5 kerajaan.
Sedangkan kata properti berasal dari kata aslinya dalam bahasa Inggris, yang
arti sebenarnya adalah hak dan kepemilikan atas suatu tanah dan bangunan diatasnya.
Sangat jelas disini baik kata real estate maupun property memiliki
pengertian yang sama, yaitu hak kepemilikan atas tanah dan bangunan yang
didirikan diatasnya (Joehartanto, 2009).
Industri property and
realestate merupakan industri yang bergerak dibidang pembangunan
gedung-gedung fasilitas umum. Menurut Michael C. Thomsett dan Jean Freestone
Thomsett, pasar properti secara umum dibagi menjadi tiga yaitu, residental property,
yang meliputi apartemen, perumahan, falt, dan bangunan multi unit; commercial
property, yaitu property yang dirancang untuk keperluan bisnis, misalnya
gedung penyimpanan barang dan areal parkir; dan industrial property, yaitu
properti yang dirancang untuk keperluan industri, misalnya bangunan-bangunan
pabrik.
Adapun pasar properti di
Indonesia pada dasarnya dapat dibagi kedalam beberapa segmen pasar yaitu,
gedung perkantoran (office building); retail market yang meliputi
swalayan dan mall; apartemen dan kondominium; pasar kawasan industri (industrial
estate market); dan pasar hotel (hotel market).
Dihampir semua negara
termasuk Indonesia, sektor industri property and realestate merupakan
sektor dengan karakteristik yang sulit untuk diprediksi dan berisiko tinggi.
Sulit diprediksi disini artinya, pasang surut sektor ini memiliki amplitude
yang besar yaitu, pada saat terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, industri property
and realestate mengalami booming dan cenderung over supplied,
namun sebaliknya pada saat pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, secara
cepat sektor ini akan mengalami penurunan yang cukup drastic pula. Industri
sektor properti dan realestate dikatakan juga mengandung risiko
tinggi, hal ini disebabkan pembiayaan atau sumber dana
utama sektor ini pada umumnya diperoleh melalui kredit perbankan, sementara
sektor ini beroperasi dengan menggunakan aktiva tetap berupa tanah dan
bangunan. Meskipun tanah dan bangunan dapat digunakan untuk melunasi utang
tetapi aktiva tersebut tidak dapat dikonversikan kedalam kas dalam waktu yang
singkat, sehingga banyak pengembang (developer) tidak dapat melunasi
utangnya pada waktu yang telah 6 ditentukan. Disamping aktiva tetap,
ketidakmampuan pengembang di dalam melunasi utang biasanya disebabkan oleh
adanya penurunan tingkat penjualan. Terjadinya penurunan ini merupakan akibat
dari adanya spekulasi tanah (mark-up
tanah) yang membuat harga tanah menjadi mahal,
sehingga menyebabkan tingginya harga jual rumah dan bangunan. Mahalnya harga
jual rumah dan bangunan yang diikuti kecenderungan over supplied, menyebabkan
tingkat penjualan jauh dibawah target yang telah ditetapkan. Meskipun demikian,
dalam kenyataannya sektor ini cukup diminati oleh banyak kalangan pengusaha dan
mendapat dukungan penuh dari perbankan yang menyediakan portofolio kreditnya untuk
properti.
Jika dilihat dari beberapa
penelitian terdahulu, terdapat perbedaan hasil penelitian yang berkaitan dengan
pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal. Dalam penelitian Sartono (1999)
menunjukkan hasil bahwa profitabilitas mempunyai hubungan positif terhadap
struktur modal. Sedangkan dalam penelitian Kartini & Tulus Arianto (2008)
menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif dengan struktur
modal. Selain itu, jika dilihat dari penelitian yang berkaitan dengan pengaruh
pertumbuhan aktiva terhadap struktur modal, juga terdapat perbedaan hasil
penelitian. Dalam penelitian Kartini dan Tulus Arianto (2008) menunjukkan hasil
bahwa pertumbuhan aktiva mempunyai hubungan positif terhadap struktur modal.
Sedangkan dalam penelitian Hendri
Berdasarkan masalah tersebut
diatas yang berkaitan dengan pengaruh profitabilitas, pertumbuhan asset, dan
ukuran perusahaan terhadap struktur modal, maka pembahasan ini mengambil judul
” Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi
struktur Modal & Analisis
Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran Perusahaan
terhadap Struktur Modal”
1.2 Tujuan
Makalah
ini disusun dengan tujuan sebagai berikut.
1. Mengetahui faktor
faktor yang mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur di bidang makanan dan
minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI)
2. Mengetahui pengaruh likuiditas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan penjualan, dan price earning rasio terhadap struktur modal perusahan.
3. Mengetahui analisis pengaruh profitabilitas, pertumbuhan asset,
dan ukuran perusahan terhadap sturuktur modal pada perusahan Realestate and Property Yang Terdaftar Di (BEI)
4. Mengetahui pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, Ukuran Perusahaan terhadap
struktur modal perusahan
1.3 Lampiran jurnal
Kikiama
orizah udin .022709047.faktor faktor yang mempengaruhi struktur modal (studi
empiris pada perusahaan faktor –faktor yang n makanan dan minuman yang
terdaftar di BEI ). Pembimbing 1 Asrudin hormati ,SE .,MSA.,Ak.Pembimbing II
Dwi yana Amalia sari fala,SE .,M.Si,Ak
Eka
Amlia Kusumaningrum, C2A308003. Analisis
pengaruh profitabilitas, Pertumbuhan asset, dan ukuran Perusahaan terhadap
struktur Modal. Pembimbing: Drs. Wisnu Mawardi, MM
Penelitian
ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai faktor-faktor yang
meempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur bidang makanan dan
minuman yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI) .Faktor -faktor yang di
uji yaitu likuiditas ,profitabilitas, srtuktur aktiva,pertumbuhan penjuaalan
,dan price earning ratio.
Penentuan
sampel menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria menyajikan laporan
tahunan selama 2008 – 2012 .Diperoleh sampel sebanyak 17 perusahaan makanan dan
minuman dalam penelitian ini .penelitian ini menggunakan analisis regresi
berganda untuk menguji faktor faktor yang berpengaruh terhadap struktur
modal.selain ini juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas
, uji multikolinieritas ,uji heteroskedastisitas dan uji autokorelas. Hasil
penelitian menunjukan bahwa variabel independen yang berpengaruh secara
signifikan terhadap struktur modal adalah likuiditas ,pertumbuhan perusahaan
,dan price earning ratio. Sedangkan variabel profitabilitas dan struktur aktiva
tidak berpengaruh terhadap struktur modal.
(studi
kasus perusahan Realestate and Property,pertumbuhan penjualan ,dan ukuran
perusahaan terhadap struktur modal perusahaan realestate and property yang
terdaftar pada BEI periode tahun 2005-2009). Disusun oleh: Eka Amelia
kusumaningrum C2A308003. Dosen pembimbing :Drs.Wisnu mawardi ,MM.
Struktur modal menunjukan seberapa besar utang
maupun modal sendiri yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan
.Apabila dikaitkan dengan masalah penentuan sumber –sumber dana yang akan
digunakan serta berapa besarnya proporsi masing masing sumber dana tersebut,
maka perusahaan akan menganalisis sejumlah faktor untuk kemudian menetapkan
struktur modal yang ditargetkan.
Penelitian
ini dilakukan dengan metode purposive
sampling untuk mendapatkan yang respsentatif sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan. Jumlah sampel yang didapat adalah sebanyak 16 perusahaan realestate and property dengan periode
penelitian 2005-2009. Analisis data yang digunakan adalah analisis uji regresi
berganda dengan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji
multikolineraritas, uji heterokedaksitas, dan uji autokorelasi. Sedangkan
pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji T.
Hasil
penelitian menunjukan bahwa selama
periode penelitian mulai tahun 2005 hingga tahun 2009 secara parsial variabel
profitabilitas dan pertumbuhan asset terbukti berpengaruh signifikan terhadap
struktur modal, sedangkan variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan
terhadap struktur modal. Hasil dari koefisien regresi menunjukan bahwa variabel
profitabilitas dan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap
struktur modal, sedangkan variabel pertumbuhan asset mempunyai pengaruh positif
terhadap struktur modal.
Penelitian
ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilits, pertumbuhan penjualan, dan
ukuran perusahaan terhadap struktur modal perusahaan realestate and
property yang terdaftar pada BEI periode tahun 2005-2009. Struktur modal
menunjukkan seberapa besar utang maupun modal sendiri yang digunakan sebagai
sumber pendanaan perusahaan. Apabila dikaitkan dengan masalah penentuan
sumber-sumber dana yang akan digunakan, serta berapa besarnya proporsi
masing-masing sumber dana tersebut, maka perusahaan akan menganalisis sejumlah
faktor untuk kemudian menetapkan struktur modal yang ditargetkan.
Penelitian ini dilakukan
dengan metode purposive sampling untuk mendapatkan sampel yang
reprensentatif sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Jumlah sampel yang
didapat adalah sebanyak 16 perusahaan realestate and property dengan
periode penelitian 2005-2009. Analisis data yang digunakan adalah analisis uji
regresi berganda dengan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji
multikolinearitas, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi. Sedangkan
pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji t.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa selama periode penelitian mulai tahun 2005 hingga tahun 2009 secara
parsial variabel profitabilitas dan pertumbuhan asset terbukti berpengaruh
signifikan terhadap struktur modal, sedangkan variabel ukuran perusahaan tidak
berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Hasil dari koefisien regresi
menunjukkan bahwa variable profitabilitas dan ukuran perusahaan mempunyai
pengaruh negatif terhadap struktur
modal, Kata kunci: Struktur
Modal, Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, Ukuran perusahan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Struktur modal menurut riyanto (2001:2013) adalah
primbangan atau perbandingan antar jumlah hutang jangka panjang dengan modal
sendiri. Oleh karena itu, struktur modal diproksi dengan debt to equtyratio
(DER), yang merupakan perbandingan antara total hutang terhadap modal sendiri.
Pemakaian proksi dimaksudkan untuk mempermudah pengukuran karena factor
tersebut tidak dapat diukur secara langsung. Semakin besar DER maka semakin
besar pula resiko yang harus dihaapi perusahan, karena pemakain hutang sebagai
sumber pendanaan jauh lebih besar dari pada modal sendiri.
Keputusan struktur modal secra langsung berpengaruh
terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham serta besarnya tingkat
pengembalian atau keuntungan yang bdiharapkan ( bringhsm dsn hoston 2001).
Merupakan tugas dari manajer keuangan untuk menentukan komposisi struktur modal
perusahan. Manajer keuangan harus mengesahkan agar perusahan memperoleh dana
yang diperlukan dengan biaya minimal dan syarat-syarat yang paling
menguntungkan.
Dalam penelitian Kartini & Tulus Arianto (2008)
menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai hubungan negatif dengan struktur
modal.
Setyawan dan Sutapa (2006) menunjukkan hasil bahwa
pertumbuhan aktiva mempunyai hubungan negatif terhadap strutur modal. Di luar
permasalahan tersebut, berkaitan dengan pengaruh tangibility terhadap
struktur modal juga terdapat perbedaan hasil penelitian.
kata properti berasal dari
kata aslinya dalam bahasa Inggris, yang arti sebenarnya adalah hak dan
kepemilikan atas suatu tanah dan bangunan diatasnya. Sangat jelas disini baik
kata real estate maupun property memiliki pengertian yang sama,
yaitu hak kepemilikan atas tanah dan bangunan yang didirikan diatasnya
(Joehartanto, 2009).
Industri property and
realestate merupakan industri yang bergerak dibidang pembangunan
gedung-gedung fasilitas umum. Menurut Michael C. Thomsett dan Jean Freestone
Thomsett, pasar properti secara umum dibagi menjadi tiga yaitu, residental
property, yang meliputi apartemen, perumahan, falt, dan bangunan
multi unit; commercial property, yaitu property yang dirancang untuk
keperluan bisnis, misalnya gedung penyimpanan barang dan areal parkir; dan industrial
property, yaitu properti yang dirancang untuk keperluan industri, misalnya
bangunan-bangunan pabrik.
Dalam penelitian Sartono
(1999) menunjukkan hasil bahwa profitabilitas mempunyai hubungan positif
terhadap struktur modal.
Sedangkan dalam penelitian
Kartini & Tulus Arianto (2008) menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai
hubungan negatif dengan struktur modal. Selain itu, jika dilihat dari
penelitian yang berkaitan dengan pengaruh pertumbuhan aktiva terhadap struktur
modal, juga terdapat perbedaan hasil penelitian.
Keputusan pendanaan adalah
keputusan keuangan tentang dari mana dana untuk membeli aktiva berasal (Lukas,
2003). Keputusan pendanaan merupakan keputusan yang berhubungan dengan masalah
penentuan sumber-sumber dana yang akan digunakan, dan masalah perimbangan
terbaik antara sumber-sumber dana tersebut.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Struktur
modal
Penentuan
struktur modal banyak di pengaruhi oleh berbagai macam faktor. Dasar struktur
modal berkaitan dengan sumber dana, baik itu sumber internal maupun sumber
eksternal. Struktur modal berkaitan dengan sumber dana, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar perusahaan. Sumber dana internal berasal dari dana yang
terkumpul dari laba yang di tahan yang berasal dari kegiatan perusahaan.
Sedangkan sumber dana eksternal berasal dari pemilik yang merupakan komponen
modal sendiri dan dana yang berasal dari para kreditur yang merupakan modal
pinjaman atau hutang. Modal dalam suatu bisnis merupakan salah satu sumber
kekuatan untuk dapat melaksanakan aktifitasnya. Struktur modal perusahaan
merupakn kompisisi hutang dengan ekuitas dana yang berasal dari hutang mempunyai
biaya modal dalam bentuk biaya bunga. Dana yang berasal dari ekuitas mempunyai
biaya modal berupa deviden. Perusahaan akan memilih sumber dana yang paling
rendah biaya di atas berbagai alternatif sumber dana yang tersedia. Komposisi
hutang dan ekuitas tidak optimal akan mengurangi profitabilitas perusahaan dan
sebaliknya.
3.2
Faktor-faktor
yang mempengaruhi struktur modal
Salah satu fungsi manajer keuangan
adalah memenuhi kebutuhan dana. Didalam melakukan tugas tersebut manajemen
keuangan di hadapkan adanya suatu variasi dalam pembelajaran dalam arti
kadang-kadang perusahaan lebih baik menggunakan dana yang bersumber dari hutang
(dbt), tetapi kadang perusahaan lebih baik jika menggunakan dana yang bersumber
dari modal sendiri (equity). Oleh karena itu manajer keuangan di dalam
operasinya perlu berusaha untuk memenuhi suatu sasaran tentu mengenai
pertimbangan antara besarnya hutang dan jumlah modal sendiri yang tercermin
dalam struktur modal perusahaan.
Struktur modal dalam penelitian ini
diukur dari debt to equity ratio (DER) di karenakan DER mencerminksn besarnya
proporsi antara total debt (total hutang) dan total shareholder’s equity (total
modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities (baik hutang jangka
pendek maupun jangka panjang), sedangkan total shareholder’s merupakan total
modal sendiri (total modal saham yang di setor dan laba yang di tahan) yang
dimiliki perusahaan. Rasio ini
menunjukan kompisisi dari total hutang terhadap total ekuitas. Semakin tinggi
DER menunjukkan kompisisi total hutang semakin besar di banding dengan total
modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar
beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur) (Ang 1997). Dalam
menentukan perimbangan antara besarnya hutang dan jumlah modal sendiri yang
tercermin pada struktur modal perusahaan, maka perlu memperhitungkan adanya
berbagai faktor yang mempengaruhi debt to equity ratio (DER). Faktor-faktor yang
mempengaruhi DER adalah sebagai berikut:
3.2.1 Likuiditas
Rasio
likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan di
dalam membayar hutang jangka pendek yang telah jatuh tempo. Perusahaan yang
dapat segera mengembalikan utang-utangnya akan mendapat kreditur untuk
menerbitkan hutang dengan jumlah yang besar. RIYANTO 2001 menyatakan bahwa kebutuhan
dana untuk aktiva lancar pada prinsipnya di biayai dengan kredit jangka pendek
sehingga semakin likuit suatu perusahaan, maka semakin tinggi penggunaan
hutangnya. Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek
perushaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan reltif terhadap hutang
lancarnya (hutang dakam hal ini merupakan kewajiban perusahaan). Likuiditas
menurut kamus akuntansi yang disusun oleh SAUJANA (2006:189) yaitu kemampuan
seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau hutang yang harus
segera di bayar dengan harta lancarnya.
Menurut
Packing Order Theory, perusahaan yang mempunyai likuiditas yang tinggi akan
cenderung menggunakan pembiayaan dari hutang. Hal ini di sebabkan perusahaan
dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar, sehingga
perusahaan tersebut akan lebih menggunakan internalnya terlebih dahulu untuk
membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui
hutang. Dalam penelitian prowse (1990)
dalam kusumawati (2004), likuiditas, asset perusahaan dapat digunakan untuk
menunjukan seberapa besar asset terse3but dapat di manipulasi oleh shareholdrs
dengan biaya di tanggung boundholders. Selanjutnya menurut ozkan (2001) dalam
kusumawati (2004), perusahaan dengan asset likuidi yang besar dapat digunakan
asset ini untuk berinvestasi (pecking order theory).
3.2.2 Profitabilitas
Brinham
and houstond (2001) dalam nugroho (2004) mengatakan bahwa perusahaan dengan
tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi akan menggunakan utang relatif
kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian
besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang di hasilkan secara internal.
Perusahaan yang mempunyai profit tinggi, akan menggunakan hutang dalam jumlah rendah,
dan sebaliknya. Fenomena ini di dukung oleh hasil penelitian titman dan wessels
(1988) dalam abadi (2004) yang menggunakan debt ratio untuk menggambaran
struktur modal, bahwa ada hubungan negatif antara profitabilitity dengan debt
ratio.
Menurut Weston dan Brigham (1990)Profitabilitas
merupakan faktor yang dipertimbangkan dalam menetukan struktur modal
perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi
cenderung menggunakan utang yang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi
sudah memadai untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan.
Ratio profitabilitas merupakan rasio
yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitabilitas)
pada tingkat penjualan, aktiva, dan modal. Ada tiga rasio yang dapat digunakan
dalam rasio profitabilitas, yaitu rasio profit margin return on asset (ROA) dan
return on Equity (ROE) profit margin
mengukur sejauh mana perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan
tetentu. Rasio profit margin yang rendah dapat menunjukan ketidakefesien
manajemen. ROA menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba
dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Sedangkan ROE menggambarkan
tingkat return yang dihasilkan perusahaan bagi pemegang sahamnya.
Chen
dan hammes (2003) dalam indrawati dan suhendro (2006) mengemukakan bahwa
perusahaan mengalami kesulitan keuangan akan meminjam uang atau mengeluarkan
saham dengan kondisi tertentu agar mendapatkan sumber dana untuk kegiatan
operasionalnya. Perusahaan dengan kondisi keuangan yang baik meminjam uang
lebih sedikit walaupun mempunyai kesempatan untuk meminjam lebih banyak.
Profitabilitas merupakan
faktor yang dipertimbangkan dalam menetukan struktur modal perusahaan. Hal ini
dikarenakan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung
menggunakan utang yang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi sudah
memadai untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan. Menurut Weston dan
Brigham (1990),
3.2.3 Struktur aktiva
Aktiva
menggambarkan sebagian jumlah asset yang dapat dijadikan jaminan (collateral
value of asset). Brigham and gapenski (1996) dalam nugroho (2004) menyatakan
bahwa secara umum perusahaan yang memiliki jaminan terhadap hutang akan lebih
mudah mendapatkan hutang daripada perusahaan yang tidak memiliki jaminan. Teori tersebut juga kondisi dengan atmaja
(1999) yang menyatakan bahw perusahaan yang memiliki aktiva yang dapat di
gunakan sebagai angunan hutang cenderung menggunakan hutang yang relatif besar.
Menurut Riyanto (2001)kebanyakan
perusahaan industri di mana sebagian besar dari pada modalnya tertanam dalam
aktiva tetap, akan mengutamakan pemenuhan modalnya dari modal yang permanen,
yaitu modal sendiri, sedangkan hutang sifatnya sebagai pelengkap. Hidayat
(2001) dalam stefannie handayani (2011) mengemukakan bahwa struktur aktiva
berpengaruh positif terhadap struktur modal. Penelitian dari mayangsari (2001)
mendukung penelitian hidayat (2001) tersebut, di mana struktur aktiva
berpengaruh positif terhadap struktur modal.
Struktur aktiva mencerminkan dua komponen
aktiva secara garis besar dalam komposisinya yaitu aktiva lancar dan aktiva
tetap. Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva yang dapat di
realisasikan menjadi uang kas atau dijual atau lagi dikonsumsi dalam suatu
periode akuntansi yang normal sedangkan aktiva tetap adalah aktiva yang
diperoleh dalam bentuk siap pakai atau di bangun lebih dahulu yang digunakan
dalam operasi perusahaan.
Penelitian yang di lakukan oleh
wijaya dan hadiyanto (2008) menunjukkan bahwa struktur aktiva berpengaruh
positif terhadap struktur modal. Hasil yang berbeda di temukan dalam penelitian
suarto dan edingsing (2002) menunjukkan adannya tidak signifikan terhadap
struktur modal. Hasil yang berbeda di temukan dalam penelitian yang di lakukan
oleh harjanti dan tadelilin (2007),
kusumawati (2004) serta darmawan (2008) yang memberikan hasil bahwa
struktur aktiva tidak berpengaruh struktur modal.
3.2.4 Pertumbuhan
perusahaan
Perusahaan
yang stabil dapat lebih aman, dapat lebih banyak pinjaman dan menanggung beban
yang lebih tinggi di bandingkan dengan perusahaan yang penjualan yang tidak
stabil. Perusahaan umum, karena permintan produk atau jasanya stabil secara
historis maupun menggunakan lebih leverage keuangan dari pada perusahaan
industri. Perusahaan yang tumbuh dengan
pesat harus lebih banyak mengandalkan modal eksternal lebih jauh lagi, biaya
pengembangan untuk penjualan saham bisa lebih besar dari pada biaya untuk penerbitan
surat hutang obligasi yang lebih banyak mengandalkan hutang tetapi pada saat
yang sama, yang cenderung mengurangi keinginannya untuk menggunakan hutang
(brigham dan houston, 2011).
Bagi perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan penjualan dan laba yang tinggi
kecenderungan penggunaan hutang sebagai sumber dana eksternal yang lebih
besar dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang tingkat pertumbuhan
penjualan rendah (mayangsari, 2001). Berdasarkan hasil penelitian yang di
kemukakan oleh (Thies dan klock, 1992 dan baskin 1989 dalam mayangsari, 2001)
menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan
dengan hutang.
Pertumbuhan penjualan yang tinggi
selalu di ikuti dengan peningkatan dana yang di gunakan untuk pembiayaan
ekspansi. Hal ini perusahaan cenderung mengurangi keinginan perusahaan untuk
membagi laba pada para pemegang saham berdasarkan uraian di atas pertumbuhan
penjualan di prediksikan mempunyai pengaruh positif terhadap struktur modal
perusahaan.
3.2.5 Price
earning Ratio
Price
earning ratio (PER) merupakan perbandingan harga suatu saham (market price)
dengan earning pe share (EPS) dari saham yang bersangkutan. Kegunaan dari PER
adalah melihat bagaimana pasar
menghargai kinerja saham suatu perusahaan terhadap kinerja perusahaan yang
tercemin oleh EPS nya .semakin besar PER suatu saham maka menyatakan saham
tersebutsemakin mahal terhadap pendapatan bersih per sahamnya.
3.2.6 Ukuran
Perusahaan (Firm Size)
Ukuran perusahaan dapat
diartikan sebagai besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai equity,
nilai perusahaan, ataupun hasil nilai total aktiva dari suatu perusahaan
(Bambang Riyanto, 1995). Menurut Sujianto (2001), ukuran perusahaan menggambarkan
besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva jumlah
penjualan, rata-rata total penjualan asset, dan rata-rata total aktiva. Dalam
penelitian ini, dengan mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Saidi (2004)
maka ukuran perusahaan diukur melalui total asset yang yang diproksikan dengan
nilai logaritma natural dari total asset perusahaan (Ln Total Asset).
3.2.7 Pertumbuhan
Asset (Assets Growth)
Menurut Brimigham dan Erhart
(2005), perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan bergantung pada
dana dari luar perusahaan dikarenakan dana dari dalam perusahaan tidak
mencukupi untuk mendukung tingkat pertumbuhan yang tinggi. Dengan demikian
perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi akan lebih banyak menggunakan
utang sebagai sumber pendanaannya daripada perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang rendah.
3.2.8 Kerangka pikir.
Faktor- factor yang mempengaruhi struktur modal suatu
perusahan bermacam-macam. Dalam pembahasan ini factor yang digunakan adalah
likuiditas, profitabilitas, struktur aktiva, pertumbuhan perusahan, dan price
earning ratio. Kerangka pemikiran adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1
Model Penelitian study kasus I
Likuiditas
|
Profitabilitas
|
Sturuktur
Aktiva
|
Pertumbuhan Perusahan
|
Price
earning
|
Struktur
Modal
|
Gambar Model Kerangka Pemikiran
Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Asset, dan Ukuran
Perusahaan
terhadap
Struktur Modal
Profitabilitas
(profitability)
|
Pertumbuhan Asset
(assets growth)
|
Ukuran Perusahaan
(firm size)
|
Struktur Modal
|
Gambar 3.2 Model Penelitian studi kasus II
3.3 Pembahasan hasil penelitian
3.3.1 Pengaruh
likuiditas terhadap struktur modal
Hasil
analisis statistic ditemukan bahwa likuiditas berengaruh terhdap sturuktur
modal namun ada hubungan yang ditunjukan oleh koefisien regresi adalah
negative, hal ini berarti semakin besar likuiditas suatu perusahan, maka
berdampak pada berkurangnya penggunaan hutang jangka panjang dan struktur
modal. Secara teori bahwa dengan kemampuan likuiditas yang besar perusahan
dapat mengurangi tingkat resiko perusahan oleh hutang dengan mengurangi tingkat
hutang atas kemampuannya.
3.3.2 Pengaruh profitabilitas terhadap struktur
modal.
Hasil pengujian menunjukan bahwa profitsbilitas tidak berpengaruh
terhadap struktur modal, artinya variasi naik turuunya profitabilitas perusahan
tidak diikuti oleh variasi naik turunya struktur modalnya, atau ketika
profitabilitas perusahan mengalami perubahan ( naik/turun) maka tidak diikuti
oleh perusahan struktur modalnya.hal ini tidak sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa wirausahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi akan menggunakan utagng relative
kecil. Ini dimungkinkan karena perusahan lebih memilih utang dal pemenuhan
pendanaan perusahan.
3.3.3 Pengaruh
struktur aktiva terhadap struktur modal.
Hasil analisis statisiskik menemukan bahwa stuktur aktiva tidak
berpengaruh terhadap struktur modal, karena variasi naik turunnya struktur
aktiva perusahan tidak diikuti oleh variasi naik turunnya struktur modal, atau
ketika struktur aktiva perusahan mengalami perubahan (naik/turun) maka tidak
diikuti oleh perusahan struktur modalnya. Hal ini karena adanya produk
derivatif pembiayaan dan munculnya inovasi-inovasi baru dalam instrument
keuangan yang menyebabkan perang jaminan yang berbentuk aktiva tetap menjadi
semakin berkurang untuk dijadikan agunan.
3.3.4 Pengaruh
pertumbuhan perusahan terhadap struktur modal.
Hasil pengujian statistic menemukan bahwa pertu
mbuhan perusahan mempengaruhi struktur modal dan
memiliki arah hubungan yang positif. Suatu perusahan yang berbedah dalam
industry yang mempunyai laju pertumbuhan yang tinggi harus menyediakan modal
yang cukup untuk membelanjai perusahan. Perusahan yang bertumbuh pesat
cenderung lebih banyak menggunakn utang dari pada perusahan yang bertumbuh
secara lambat ( Weston & brigham, 1994). Penambahan utang ini dapat
dipandang sebagai meningkatnya kepercayaan masyarakat, khusunya investor
terhadap perusahan.
3.3.5 Pengaruh
PER terhadap struktur modal.
Hasil pengujian statistic menunjukan bahwa PER memiliki hubungan yang
negative dan berpengaruh terhadap struktur modal. Ang (1997) menyatakan bahwa
peningkatan PER yang dinilai oleh investor menunjukan kinerja yang semakin
baik, juga berdampak semakin menarik perhatian calon kreditur. Semakin
meningkat perhatian kreditor terhadap perusahaan, maka sangat dimungkinkan
jumlah utang akan semakin meningkat.
3.3.6 Hubungan Antara Ukuran
Perusahaan dengan Struktur Modal
Perusahaan kecil akan cenderung memiliki biaya modal
sendiri dan biaya utang jangka pendek yang lebih tinggi daripada perusahaan
besar. Maka perusahaan kecil akan cenderung menyukai utang jangka pendek dari
pada utang jangka panjang karena biayanya lebih rendah. Demikian juga dengan
perusahaan besar akan cenderung memiliki sumber pendanaan yang kuat, sehingga
lebih cenderung untuk memilih utang jangka panjang. Semakin besar ukuran suatu
perusahaan, maka kecenderungan menggunakan modal asing juga semakin besar. Hal
ini disebabkan karena perusahaan besar membutuhkan dana yang besar pula untuk menunjang
operasionalnya (Abdul Halim, 2007).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1.
Hasil analisis
ditemukan bahwa likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal, hal ini berarti
semakin besar kemampuan likuiditasnya belum tentu perusahaan tersebut mampu
membayar hutang atau pendanaan ekstern perusahaan. Secara teori bahwa dengan
kemampuan likuiditas yang besar perusahaan dapat mengurangi tingkat resiko
perusahaan oleh hutang dengan mengurangi tingkat hutang atas kemampuannya.
2.
Hasil pengujian
menunjukkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh dengan struktur modal. Hal
ini disebabkan karena profitabilitas merupakan indicator bahwa perusahaan
memiliki dana internal untuk pendanaan. Tingkat pengembalian yang tinggi
memungkinkan untuk membiayai sebagian besar keebutuhan pendanaan dengan dana
yang dihasilkan secara internal. Dalam hal ini manajer akan lebih senang
menggunakan pembiayaan dari pertama, laba ditahan, kemudian hutang, dan terakhir
penjualan saham baru.
3.
Hasil analisis
statistic menemukan bahwa struktur aktiva tidak berpengaruh terhadap struktur
modal, karena variasi naik turunnya struktur aktiva suatu perusahaan tidak
diikuit oleh variasi naik turunya struktur modalnya, atau ketika struktur
aktiva perusahan menalami perubahan (naik/turun) maka tidak diikuti oleh
perusahan struktur modalnya.
4.
Hasil pengujian
statistic menemukan bahwa pertumbuhan perusahaan mempengaruhi struktur modal.
Hal ini disebabkan karena perusahan yang tumbuh, maka menunjukan kekuatan diri
yang semakin besar pada perusahan, sehingga perusahan akan memerlukan lebih
banyak pendanaan, sehinnga sering kali perusahan tidak memiliki kecukupan
modal, sehingga tercipta hutang baru. Semakin besar aset suatu perusahan
diharapkan semakin besar hasil operasional yang dihasilkan oleh perusahan
tersebut.
5.
Hasil pengujian
statistic menunjukan bahwa PER memiliki hubungan yang yang negative dan
berpengaruh terhadap struktur modal. Peningkatan PER yang dinilai oleh investor
menunjukan kinerja yang semakin baik, juga berdampak semakin menarik perhatian
calon kreditur. Semakin meningkat perhatian kreditur terhadap perusahan, maka
sangat dimungkinkan jumlah hutang akan semakin meningkat.
6.
Dari hasil
pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa variable profitabilitas (ROA)
berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat dilihat
dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,039 yang berarti bahwa lebih
kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Profitabilitas (ROA) mempunyai koefisien
regresi dengan arah negatif sebesar -8,443. Hasil ini menunjukkan bahwa
variabel profitabilitas mempunyai hubungan negative dengan struktur modal, yang
berarti jika profitabilitas meningkat maka DER akan semakin kecil. Dari hasil
tersebut maka hipotesis yang menyatakan profitabilitas (ROA) berpengaruh
terhadap struktur modal (DER) terbukti.
7.
Dari hasil
pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa variable profitabilitas (ROA)
berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat dilihat
dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,039 yang berarti bahwa lebih
kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Profitabilitas (ROA) mempunyai koefisien
regresi dengan arah negatif sebesar -8,443. Hasil ini menunjukkan bahwa
variabel profitabilitas mempunyai hubungan negative dengan struktur modal, yang
berarti jika profitabilitas meningkat maka DER akan semakin kecil. Dari hasil
tersebut maka hipotesis yang menyatakan profitabilitas (ROA) berpengaruh
terhadap struktur modal (DER) terbukti.
8.
Dari hasil
pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa variable pertumbuhan asset (assets
growth) berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (DER). Hal ini dapat
dilihat dari tingkat signifikansi profitabilitas sebesar 0,032 yang berarti
bahwa lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Pertumbuhan asset mempunyai
koefisien regresi dengan arah positif sebesar 1,820. Hasil ini menunjukkan
bahwa variabel pertumbuhan asset mempunyai hubungan positif dengan struktur
modal, yang berarti jika pertumbuhan asset meningkat maka akan diikuti pula
dengan meningkatnya DER. Dari hasil tersebut maka hipotesis yang menyatakan
pertumbuhan asset berpengaruhterhadap struktur modal ( DER) terbukti.
4.2 Keterbatasan
Penelitian.
Keterbatasan yang ditemukan oleh penelitian dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman belum memperhatikan terlebih dahulu
variable terdahulu likuiditas, pertumbuhan perusahaan, dan price earning ratio
sebelum sebulum menetapkan kebijakan struktur modalnya sehingga kebijakan
struktur modal dihasilkan masih kurang optimal bagi perusahan.
2.
Belum ada
perhatian yang jelas dari pihak-pihak eksternal perusahaan mengenai dampak
positif dan negative dari struktur hutang yang dimiliki perusahaan.
3.
Jumlah sampel
dalam penelitian ini masih sedikit karena hanya terfokus pada perusahaan
manufaktur bidang makanan dan minuman saja. Priode penilitian yang pendek
sehingga belum menggambarkan konsistensi dari variable-variabel yang diteliti.
4.
Penelitian
ini hanya terbatas untuk sampel perusahaan realestate and property sehingga
sampel yang dapat diambil dan memenuhi syarat penelitian selamaperiode tahun
2005-2009 hanya berjumlah 16 perusahaan.
5.
Rasio keuangan
perusahaan yang digunakan sebagai dasar untuk memprediksi DER hanya terbatas
pada tiga rasio, yaitu : asset growth, firm size, dan ROA.
6.
Penilaian
kinerja berdasarkan laporan keuangan (2005-2009) mempunyai kelemahan yaitu
bersifat sesaat. Laporan itu hanya memotret kondisi perusahaan pada saat
laporan keuangan tersebut dibuat, padahal kinerja sebuah perusahaan bisa saja
berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, kalau pada tahun 2005 kinerja suatu
perusahaan bagus, pada tahun 2006 belum tentu, begitu juga sebaliknya. Hal ini
juga yang mempengaruhi proses pengolahan data saat melakukan uji koefisien
determinasi, karena fluktuatif kenaikan maupun turunnya data yang ada akan
mempengaruhi hasil dari uji koefisien determinasi (besarnya nilai adjusted R
square).
4.3 Saran
Saran-saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1.
Bagi pihak
manajemen perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman sebaiknya sebelum
menetapkan kebijakan struktur modalnya agar terlebih dahulu memperhatikan
variable likuiditas, pertmbuhan perusahaan, dan price earning ratio. Dengan
memperhatiakan variable-variabel tersebut, perusahaan dapat memutuskan besarnya
struktur modal yang sesuai sehingga dihasilkan kebijakan struktur modal yang optimal bagi perusahaan.
2.
Investor nampaknya
perlu memperhatikan nilai struktur hutang perusahaan dengan tetap
mempertimbangkan dampak positif maupun negatifnya. Dalam hal ini investor.
3.
Bagi pihak
manajemen perusahaan realestate and property sebaiknya sebelum menetapkan
kebijakan struktur modalnya agar terlebih dahulu memperhatikan variabel ukuran
perusahaan (firm size) dan profitabilitas yang di-proxy dengan return
on total asset (ROA). Dengan memperhatikan variabel-variabel tersebut, perusahaan
dapat memutuskan besarnya struktur modal yang sesuai sehingga dihasilkan
kebijakan struktur modal yang optimal bagi perusahaan.
4.
Untuk penelitian
selanjutnya diharapkan untuk meneliti variabel-variabel lain selain variabel
yang digunakan dalam penelitian ini yang mungkin berpengaruh terhadap struktur
modal.
DAFTAR
PUSTAKA
Abadi, R. Moch (2004). Analisis factor-faktor Yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahan Pada
Industry Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia ( Study Pada Tahun 1999-2001).
Tesis tidak dipublikasikan. Universitas diponegoro semarang
Atmaja, Lukas Setia. 1999. Manajemen Keuangan, Edisi 2, Andi Offset, Jakarta
Ang, Robbert. (1997). Buku Pintar: Pasar Modal
Indonesia ( The intelligentGuide to Indonesian Capital Market). Medisoft
Indonesia
Bringham, Eugene F dan Joel F Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi delapan.
Salemba Empat. Jakarta
Harjanti, Theresia T., & Eduardus Tandelilin. 2007. Pengaruh Firm size,Tangible Asset, Growth, Profitability, and Business
Risk pada Struktur odal Perusahan Manufaktur di Indonesia: studi kasus BEI.
Jurnal Ekonomi & Bisnis, Vol.1 No. 1, hlm. 1-10
Hardianto, Bram danM. Sienly Veronica Wijaya. 2008. Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran,
Likuiditas, dan Profibilitas Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Ritel di
Bursa Efek Indonesia: Sebuah Pengujian hipotesis Pecking order. Jurnal
Ilmiah Akuntansi, Vol.7 No. 1
Joni & Lina. 2010. Faktor- Faktor Yang
Mempengaruhi Struktur Modal. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Vol. 12 No.2, Agustus
2010
Kusumawati, Dini. 2004. Pengaruh Karateristik Perusahan terhadap Struktur modal pada perusahan
publik yang tercatat di bursa efek Jakarta. Jurnal Ekonomi STEI, No. 4/Thn. XIII, hlm. 22-48.
Suwarto, FX dan S I Ediningsih. 2002. Pengaruh
Stabilitas Penjualan, Struktur Aktiva. Tingkat Pertumbuhan, dan Profitabilitas
terhadap Sturuktur Modal pada perusahan pedagang eceran di Bursa Efek Jakarta.
Jurnal Akuntansi, Thn VI/No. 1, hlm. 20-32.
Seftianne & Ratih Handayani 2011. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Struktur
Modal pada Perusahan publikSektor Manufaktur. Jurnal Bisnis dan Akuntansi
Vol. 13No. 1, April 2011
Laili Hidayat (2001), “ Analisa Faktor yang
mempengaruhi struktur keuangan Perusahan Manufaktur,” Jurnal Bisnis Strategi,
VOl 7/Th. V/2001
Brigham & Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen
Keuangan. Edisi sepuluh. Jakarta: Salemba Empat.
Crhistianti, Ari. 2006. Penentuan
Perilaku Kebijakan Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di BEJ: Hipotesis
Static Trade Off atau Pecking Order Theory. Jurnal.
Ghozali, Imam. 2007. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS. Edisi keempat. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Halim,
Abdul. 2007. Manajemen Keuangan Bisnis. Bogor: Ghalia Indonesia.
Husnan, Suad. 1996. Manajemen Keuangan
Teori dan Penerapan. Yogyakarta: BPFE, Edisi Keempat.
Joehartanto, 2009. “Property vs Real
Estate”, h..n.p, http://www.joehartanto.com. Diakses tanggal 1 April 2009.
Kartini, dan Tulus Arianto, 2008. Struktur
Kepemilikan, Profitabilitas, Pertumbuhan Aktiva dan Ukuran Perusahaan Terhadap
Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur. Jurnal Keuangan dan Perbankan
Vol 12 No.1.
Lukas
Setia Atmaja. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi 3. Yogyakarta: ANDI.
Margaretha, Farah. 2003. Tinjauan
Persepsi Manajemen Terhadap Struktur Modal Perusahaan Go Publik. Jurnal
Riset Bisnis dan Manajemen. Vol.3 No.1, April.
Michael C. Thomsett, Jean Freestone
Thomsett, Getting Started in Real Estate Investing, John Wiley & Sons Inc.
Munawir, S. 2002. Analisa Laporan
Keuangan. Yogyakarta: Liberty. Edisi Keempat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar