Rabu, 23 Maret 2016

MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK



MAKALAH AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
(Planing, Programing, and Budgeting System- PPBS)

Oleh


Riski Ismail
Haribudin Zulkifli
Asri lakampuno
Fajrul Rahman Assagaf







PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE
2016



KATA PENGANTAR


Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas menulis makalah tentang “(Planing, Programing, and Budgeting System- PPBS)”.
Dalam penulisan makalah ini penulis mengalami banyak hambatan dan kesulitan, namun berkat mencari dari sumber-sumber serta bimbingan dan dorongan dari pihak yang telah memberikan masukan atas terselesaikannya penulisan makalah ini.
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Kritik serta saran yang bersifat membangun dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.




Ternate,21 Maret 2016


Kelompok I0











DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR …………………………………………………………………..................  i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..……………   ii
BAB I. PENDAHULUAN ..………………………………………………………………………… 1
1.1.        Latar Belakang …………………………………………………………………………….    1
1.2.        Rumusan Masalah …………………………………………………………………………   1
1.3.        Tujuan ………………………………………………………………………….……………  1
BAB II. PEMBAHASAN    ………………………………………………………………………     2
2.1.      Pengertian PPBS…………………… …………………………………………..………..    2
2.2.      Konsep PPBS………………………………………………………………………………  2
2.2.1. Gambar Konsep PPBS………   ………………………………………………………..     2
2.3.      Tahapan PBBS…………………………………………………………………………….         5
2.4.      Logica Framework…………… ……………………………………………………………   6
BAB III. PENUTUP ………………………………………………………………………………..   9
3.1.      KESIMPULAN ……………………………………………………………......................     9
3.2.      SARAN ……………………………………………………………………………………..   9
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………….. 10















 BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar belakang

Pendekatan System Perencanaan, Program, Dan Anggaran (Planning, Programming, And Budgeting system-PPBS) dikembangkan untuk mengatasi ketidakpuasan terhadap system penganggaran tradisonal dan penganggaran berbasis kinerja. Penganggaran tradisional dirasakan Penganggaran kinerja yang diharapkan mampuh mengatasi berbagai kelemahan dari penggaran tradisional, ternyata juga memiliki kelemahan tersendiri. Penganggaran berbasis kinerja mmenitikberatkan pada hal-hal yang dapat diukur dan dihitung.
Oleh karena itu, meskipun ada perhatian pada output/hasil, hanya sedikit usaha yang dibuat untuk menghubungkan hasil dengan proses perencanaan ( tujuan dan sasaran) yang telah dicanangkan diawal.

1.2              Rumusan Masalah
1        Apa itu Pengertian & konsep PPBS?
2.      Bagaimana tahapan dalam PPBS?
3.      Bagaimana hubungan logical Framework terhadap PPBS?

1.3              Tujuan
1.      Untuk mengetahui Pengertian & Konsep dari PPBS
2.      Untuk mengetahui bagaimana tahapan dalam PPBS
3.      Mengetahui Bagaimana hubungan logical Framework terhadap PPBS




BAB II
PEMBAHASAN

1.1              Pengertian ( PPBS ) Planning, Programming, And Budgeting System
PPBS merupakan upaya sistematis yang memperhatikan integrasi dari perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran. Pada PPBS, sasaran, manfaat, dan tujuan harus diterjemahkan secara eksplisit sehingga program strategis yang berorientasi pada hasil dapat didentifikasi. Dari sini, informasi tentang anggaran yang membantu pengalokasian sumber daya secara efektif akan dihasilkan.
2.2.      Konsep PBBS
Konsep PPBS merupakan konsep luas yang memandang bahwa penyusunan anggaran bukanlah proses terpisah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan suatu organisasi.
Kebijakan
(visi)
Misi
Tujuan
.


Perencanaan
                        analisis
Pembuatan Program
Mengukur & mengkalkulasikan hasil
Pengambilan Keputusan
 



informasi                                                                                                                               Informasi
Implementasi
Penganggaran
 



2.2.1    Gambar Konsep PPBS
         Dengan demikiann PPBS dapat dipahami sebagai sebuah system penganggaran dengan karateristik berikut.
1.      PPBS merupakan salah satu kesatuan dengan tahap perencanaan.
2.      Pendekatan ini dirumuskan dalam bentuk program atau aktifitas yang diderivasikan dari misi dan tujuanyang terdapat dalam dokumen perencanaan.
3.      Indicator kinerja disusun dan dikembangkan secara integrasi dengan sasaran strategis yang ada di dokumen perencanaan.
4.      Dalam tingkat yang lebih maju, pendekatan ini memperhitungkan kebutuhan kebutuhan biaya dalam jangak menengah sebagai upaya konsistensi dengan sasaran strategis.

         Sebelum PPBS diimplementasikan, suatu organisasi harus mengembangkan kemampuan analisisnya untuk memahami tujuan organisasinya secara mendalam, termasuk kemampuan mengembangkan program beserta indicator hasil untukmencapai tujuan tersebut.
         Pemahaman yang baik tentang tujuan strategis organisasi akan membantu pengembangan program dan kegiatan yang baik. Secara teknis, tahapan tersebut diawali dengan proses identifikasi kebutuhan dan evaluasi keterbatasan sumber daya. Berdasarkan pengukuran kebutuhan dan evaluasi keterbatasan sumber daya, sasaran dan tujuan ditentukan. Berikutnya, struktur program organisasi dikembangkan secara keseluruhan.
         Berdasarkan program-program yang telah dibuat, indicator kinerja dan alokasi sumber daya keuangan disusun seperti halnya pendekatan anggaran kinerja. Perbedaannya, dalam PPBS, indicator dan alokasi keuangan memiliki keterkaitan yang erat dengan perencanaan strategis karena proses pengambangan program uang didasarkan pada rencana strategis organisasi.
         Figur diatas mengambarkan dengan jelas bahwa sebuah anggaran adalah suatu instrument untuk mengimplementasikan rencana jangka panjang. Tidak seperti penganggaran tradisional (line-item budget) diman pengambilan keputusan anggaran dilakukan dari bawa ke atas ( top down) dan berfokus ada nilai pengeluaran, pengambilan keputusan dalam PPBS utamanya dilakukan sebagai kombinasi antar pengambilan keputusan dari atas kebawah dan dari bawah ke atas (bottom down).
         PPBS juga berbeda dengan penganggaran tradisional dalam hal pengukuran atau penilaian hasil alokasi sumber daya. PBBS mempunyai sudut pandang waktu yang lebih luas karena kebutuhan sinkronisasi dengan dokumen perencanaan yang kerangka waktunya memang lebih dari satu tahun.
         PPBS memiliki beberapa kelebihan berikut.

1.      Pendekatan ini menekankan perencanaan jangka panjang dimana tujuan utama dan tujuan jangkamenengah dinyatakan secara eksplisit. Biaya dan manfaat dari alternatiif tindakan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut dievaluasi secara eksplisit. Dalam bentuk kuantitatif sepanjang memungkinkan dan secara naratif di semua kasus.
2.      PBSS mengasumsikan bahwa semua program akan dievaluasi secara tahunan. Jadi, program yang “jelek” akan dibuang dan program program baru akan ditambahkan.
3.      Keputusan mengenai program pada pendekatan PBBS diuat pada tingkat manajemen puncak untuk tujuan harmonisasian dan kesesuaiandengan rencana strategi, kemudian unit organisasi dibawahnya diharakan menyesuaikan aktifitas mereka untuk memenuhi tujuan dan sasaran yang telah disepakati.
         Namun penyusunan anggaran dengan menggunakan pendekatan PBBS ini juga memiliki beberapa keterbatasan berikut.














2.3    Tahapan PBBS

Menentukan misi
Menerjemahkan sasaran dan tujuan
Mengembangkan struktur program secara keseluruhan
Mengidentifikasi hambatan dan sumber daya
Menganalisis program
Mengukur kebutuhan
1
3
6
2
5
4
 









7
                                                                                                               
Alokasi sumber daya
Mengembangkan anggaran program dan program multitahun
Evaluasi program
Mengimplementasikan rencana anggaran program
8
9
10
 



















1.       Cukup sulit membuat pernyataan yang bermakna dan eksplisit mengenai tujuan dan sasaran pemerintah yang dapat disetujui secara bersama oleh mereka yang berkepentingan, tanpa memeulikan betapa nilai dan bermaknanya pernyataan tersebut.
2.      Tidak hanya tujuan yang berubah, tetapi pejabat yang dipilih pun khusus memilih untuk tidak memenuhi lebih daripada pernyataan yang sangat umum ( tidak terperinci).
3.      Periode waktu yang mempertimbanngkan cukup relevan bagi pejabat yang dipilih mungkinterbatas pada masa jabatannya yang tersisah. Hal ini menyebabkan mereka lebih berfokus pada biaya jangka pendek daripada biaya danimplikasi yang bersifat jangka panjang.
4.      Seperti halnya anggaran kinerja, PBBS mengasumsikan adanya basis data ( database) yang memadai dan kemampuan analitis yang siap digunakan oleh organisasi sektor publik. Padahal, pada kenyataannya, organisasi ( misalnya pemerintah ) yang memiliki data program yang canggi atau staf analisis yang kualitasnya baik hanya sedikit.
5.      Pengukuran yang bersifat obyektif lebih menjadi masalah dalam PBBS dibandimgkan dalam pendekatan kinerja sebab biaya dan manfaat dalam periode beberapa tahun harus dapat diperkirahkan. Keduanya agak sulit diukur dan rasio atau hubungan diantar dua macam estimasi tersebut mengimplementasikan ketepatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang terlihat secara eksplisit.
6.      PBBS berfokus pada program dan kegiatan yang selaras dengan perencanaan strategis. Focus ini serinkali berbeda dengan orientasi unit organisasi yang masih mempunyai paradigm tradisional (object of expenditure) baik legislative maupun eksekutif. Kemudian, para pejabat ini melihat PBBS sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka dalam “membelanjakan” anggaran.

2.4       Logical Framework
            Salah satu teknik melaksanakan PBBS adalah teknik yang disebut logical framework approach (LFA). Teknik ini merupakan suatu metode yang membantu dalam mendesain program atau kegiatan yang beriorefntasi pada hasil/kenerja. LFA pertama kali dikembangkan oleh Leon J. Rosenberg pada tahun 1969 yang pada saat itu menjalankan kontrak kerja sama dengan USAID. Konsep ini banyak digunakan dalam membantu mendesain program dan kegiatan dari organisasi-organisasi di dunia, antara lain world bank.
            Berikut langkah-langkah logical framework dalam mendesain program dan kegiatan atau diistilahkan dengan proyek dalam LFA.
1.      Tentukan sudut pandang  (point of view)
Sudut pandang merupakan upaya untuk mengidentifikasi pada tingkatan level organisasi apa proyek tersebut disusun. Sudut pandang ini akan menjawab pertanyaan “kegiatan/ proyek siapakah ini?” dengan demikian, pada tahap ini, diketahui bagian/divisi/departemen/satuan kerja yang bertanggungjawab menjalankan proyek.
2.      Tentukan project development objective ( impact)
Project development objective merupakan impact yang ingin dicapai oleh pihak yang menjalankan proyek terhadap konsumennya. Jika yang melaksanakan satker pemerintah, maka yang menjadi konsumennya adalah masyarakat.
3.      Tentukan output yang dihasilkan dalam proyek yang dilaksanakan.
4.      Tentukan aktifitas yang akan dijalankan yang mengarah pada pencapaian impact.
5.      Tentukan input yang akan digunakan dalam menjalankan proyek.
6.      Tentukan indicator kinerja.
LFA menjelaskan bahwa indicator harus memenuhi persyaratan: specific in terns of quantity, quality, time, location, and target group. ( indicator secara spesifik dinyatakan dengan kuantitas, kualitas, dalam kerangka waktu yang jelas, serta menyatakan lokasi dan kelompok sasaran), measure what is important about the achievement of objectifes ( indikator mengukur hal-hal penting yang terkait pencapaian tujuan), indicator measure change at each level. They are independent from indicators at higher and lower levels ( indikator mengukur perubahan pada tiap-tiap level tingkatan), a cost-effective means of verification is available ( statictic, interviews, and records) (dalam pelaksanaan verifikasi data indikator diupayakan dengan biaya yang efektif), leading indicators included to evaluate development objectives and output level achievement before and-of-project (indikator utama dimasukan untuk mengevaluasi pencapaian output dan development objectives sebelum suatu proyekberakhir)        

7.      Tentukan asumsi dan risiko
Asumsi merupakan kondisi atau factor eksternal yang mungkin terjadi dan tidak dapat dikontrol. Sebagai contoh, dalam kegiatan menanam bibit jagung, yang menjadi asumsi dan resikonya adalah jika turunya hujan, maka benih tadi dapat tumbuh. Turun hujan merupakan kondisi yang tidak dapat dikontrol atau diperkirahkan. Hal ini bisa saja sebaliknya: jika curah hujan terlalu banyak, maka akan menimbulkan banjir dan bibit yang ditanam menjadi rusak sehingga sekaligus menjadi resiko proyek.
8.      Monitoring dan evaluasi
Monitoring adalah memonitor konversi input menjadi output untuk mengetahui apakah proyek dilaksanakan dengan benar? Sementara itu, evaluasi adalah melakukan evaluasi konversi output ke development objective impact untuk mengetahui apakah telah telah menjalankan proyek dengan benar. Jawaban atas pertanyaan mendasar akan terjawab dalam proses ini, yaitu is it working?can it be improved? Is there a better way? Is it worth it?
9.      Means of verification
Means of verification maksudnya untuk mengecek penggunaan suatu indikator: apakah informasi yang dibutuhkan tersedia? Apakah informasi ini reliable (dapat diandalkan) dan up to date? Apakah data harus dikumpulkan sendiri? Jika demikian, apakah benefit dari data yang dikumpulkan sendiri ini sesuai dengan biaya yang dikeluarkan?










BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
        
1.      PPBS merupakan upaya sistematis yang memperhatikan integrasi dari perencanaan, pembuatan program, dan penganggaran. Pada PPBS, sasaran, manfaat, dan tujuan harus diterjemahkan secara eksplisit sehingga program strategis yang berorientasi pada hasil dapat didentifikasi. Dari sini, informasi tentang anggaran yang membantu pengalokasian sumber daya secara efektif akan dihasilkan.
2.      Konsep PPBS merupakan konsep luas yang memandang bahwa penyusunan anggaran bukanlah proses terpisah yang berdiri sendiri, melainkan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari proses perencanaan dan perumusan program kegiatan suatu organisasi.
3.      Salah satu teknik melaksanakan PBBS adalah teknik yang disebut logical framework approach (LFA). Teknik ini merupakan suatu metode yang membantu dalam mendesain program atau kegiatan yang beriorefntasi pada hasil/kenerja. LFA pertama kali dikembangkan oleh Leon J. Rosenberg pada tahun 1969 yang pada saat itu menjalankan kontrak kerja sama dengan USAID. Konsep ini banyak digunakan dalam membantu mendesain program dan kegiatan dari organisasi-organisasi di dunia, antara lain world bank.

3.2    Saran

Diharapkan dengan adanya sistem PPBS ini, program yang telah di rencanakan sebelumnya bisa dilaksanakan secara efektif dan efisien dengna mempertimbangkan dana atau biaya untuk merealisasikan program tersebut.




DAFTAR PUSTAKA

Nordiawan, Doddi dan Hertianti, Ayuningtyas. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Kedua. Jakarta: Salemba Empat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar